Harga Minyak Ditutup Anjlok Usai Trump Katakan AS Segera Akhiri Perang di Iran



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak mentah acuan ditutup melemah di perdagangan awal April 2026 setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa AS akan segera mengakhiri perangnya di Iran.

Rabu (1/4/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juni 2026 ditutup turun US$ 2,81 atau 2,7% menjadi US$ 101,16 per barel, memantul dari titik terendah sesi di US$ 98,35 per barel. 

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Mei 2026 ditutup melemah US$ 1,26 atau sekitar 1,2% ke US$ 100,12 per barel, berbalik dari titik terendah sesi di US$ 96,5 per barel.


Trump, yang berencana menyampaikan pidato nanti hari ini, mengatakan kepada Reuters bahwa AS telah memastikan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir dan siap untuk keluar dari perang "dengan cukup cepat."

Baca Juga: Elon Musk Ajukan IPO SpaceX Secara Rahasia, Nilainya Bisa Pecahkan Rekor Dunia

Pada hari Selasa (31/3/2026), Trump mengisyaratkan bahwa AS dapat mengakhiri perang dalam dua hingga tiga minggu bahkan tanpa kesepakatan, pernyataan yang menyebabkan harga minyak turun lebih dari US$ 3 per barel pada sesi perdagangan tersebut.

Para pelaku pasar bertaruh bahwa Trump tidak akan membiarkan gangguan pasokan minyak yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah berlanjut hingga pertengahan Mei 2026, ketika permintaan bensin AS biasanya berada pada puncaknya, kata analis SEB.

"Risiko terhadap harga bensin AS, sentimen konsumen, dan pada akhirnya pemilihan paruh waktu November membuat konflik yang berkepanjangan secara politis sangat merugikan," kata mereka.

Pada hari Senin (30/3/2026), harga bensin di AS naik di atas US$ 4 per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.

Dalam unggahan media sosial pada hari Rabu (1/4/2026), Trump mengatakan Iran telah meminta gencatan senjata, tetapi ia hanya akan mempertimbangkannya setelah Teheran berhenti memblokir Selat Hormuz. Iran membantah telah mengajukan permintaan tersebut.

Iran telah menghentikan kapal-kapal untuk melintasi Selat Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap negara itu pada akhir Februari. Hal ini mengganggu ekspor minyak Timur Tengah dan mendorong harga bahan bakar lebih tinggi secara global.

Para analis memperkirakan bahwa aliran energi melalui Selat Hormuz akan lambat kembali ke tingkat sebelum konflik bahkan jika gencatan senjata diumumkan.

Baca Juga: Gejolak NATO: Trump Marah Besar, Kunjungan Sekjen NATO Jadi Penentu Nasib Aliansi

"Kemungkinan besar AS akan mengakhiri perang melawan Iran, tetapi... status Selat Hormuz tetap sangat tidak pasti dan sangat layak mendapatkan premi risiko geografis meskipun pasokan minyak global perlahan mulai membaik," kata penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates.

Gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah akan meningkat pada bulan April dan akan berdampak pada Eropa karena penutupan Selat Hormuz semakin memukul ekspor, kata kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, pada hari Rabu.

Mengilustrasikan dampak penutupan Selat Hormuz, produksi minyak mentah dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) turun sebesar 7,5 juta barel per hari pada bulan Maret dibandingkan bulan sebelumnya, karena produsen terpaksa mengurangi produksi karena penyimpanan sudah penuh.

Pada bulan Januari, Produksi minyak mentah AS turun paling banyak dalam dua tahun terakhir, setelah badai musim dingin yang parah menghentikan produksi, menurut data dari Badan Informasi Energi (EIA) pada hari Selasa.

Baca Juga: Sektor Manufaktur AS Tumbuh di Maret, Tapi Kinerja Pengiriman Pemasok Memburuk

Arab Saudi dapat menaikkan harga jual resmi minyak mentah ke Asia untuk bulan Mei ke level rekor, setelah minyak Timur Tengah menjadi yang termahal di dunia, menurut survei Reuters terhadap sumber-sumber industri.

Sementara itu, persediaan minyak mentah AS meningkat lebih dari yang diperkirakan minggu lalu, menurut data dari Badan Informasi Energi (EIA) pada hari Rabu.