KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari seminggu setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui sanksi lebih lanjut terhadap kapal-kapal yang mengangkut minyak, dan mengumumkan bahwa armada sedang menuju ke negara Timur Tengah tersebut. Jumat (23/1/2026), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Maret 2026 ditutup naik US$ 1,82 atau 2,8% ke US$ 65,88 per barel, tertinggi sejak 14 Januari. Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman Maret 2026 juga menguat ke US$ 1,71 atau 2,9% ke US$ 61,07 per barel, juga tertinggi dalam lebih dari seminggu.
Kedua patokan tersebut mencatatkan kenaikan mingguan lebih dari 2,5%.
Baca Juga: Veteran NATO Murka, Trump Dinilai Meremehkan Pengorbanan Sekutu di Afghanistan Pernyataan Trump memperbarui peringatan kepada Teheran agar tidak membunuh demonstran atau memulai kembali program nuklirnya. Tekanan yang meningkat telah menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak di Timur Tengah. Kazakhstan telah berjuang untuk melanjutkan produksi dari salah satu ladang minyak terbesar di dunia. Kapal perang, termasuk kapal induk dan kapal perusak berpeluru kendali, akan tiba di Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang, kata seorang pejabat AS. Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Iran pada Juni lalu. Pada hari Jumat, AS juga memberlakukan sanksi pada sembilan kapal dan delapan perusahaan terkait yang terlibat dalam pengangkutan minyak dan produk minyak Iran, kata Departemen Keuangan AS dalam sebuah pernyataan. Dengan produksi sekitar 3,2 juta barel per hari menurut angka OPEC, Iran adalah produsen minyak mentah terbesar keempat di OPEC setelah Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab. Iran juga merupakan eksportir utama ke China, konsumen minyak terbesar kedua di dunia. Chevron mengatakan produksi minyak di ladang minyak Tengiz Kazakhstan belum dilanjutkan setelah operator Tengizchevroil yang dipimpin Chevron mengumumkan penutupan pada hari Senin menyusul kebakaran. Insiden tersebut memperburuk masalah bagi industri minyak Kazakhstan, yang sudah menghadapi tantangan berupa hambatan di jalur ekspor utamanya di Laut Hitam, yang telah rusak akibat serangan drone Ukraina.
Baca Juga: Bos Goldman Sachs David Solomon Jadi CEO dengan Bayaran Tertinggi di Wall Street JP Morgan mengatakan pada hari Jumat bahwa Tengiz, yang menyumbang hampir setengah dari produksi Kazakhstan, kemungkinan akan tetap tidak beroperasi hingga akhir bulan dan produksi minyak mentah Kazakhstan kemungkinan hanya akan mencapai rata-rata 1 juta hingga 1,1 juta barel per hari pada bulan Januari, dibandingkan dengan tingkat normal sekitar 1,8 juta barel per hari.
Harga minyak naik di awal pekan karena langkah Trump terkait Greenland, tetapi turun sekitar 2% pada hari Kamis karena ia menarik kembali ancaman tarif terhadap Eropa dan menolak tindakan militer. Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa Denmark, NATO, dan AS telah mencapai kesepakatan yang akan memungkinkan "akses penuh" ke Greenland.