KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak ditutup naik untuk sesi ketiga berturut-turut karena perbedaan tajam antara Ameriika Serikat (AS) dan Iran mengenai proposal untuk mengakhiri perang di Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan yang mengacaukan pasar minyak global kemungkinan akan berkepanjangan. Selasa (12/5/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli 2026 ditutup naik US$ 3,56 atau 3,42% menjadi US$ 107,77 per barel. Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni 2026 ditutup naik US$ 4,11 atau 4,19% ke US$ 102,18. Kedua patokan tersebut telah naik hampir 3% pada hari Senin (11/5/2026).
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Senin bahwa pembicaraan gencatan senjata dengan Iran berada dalam "kondisi kritis," merujuk pada ketidaksepakatan mengenai tuntutan Teheran untuk penghentian permusuhan di semua lini, pencabutan blokade angkatan laut AS, dimulainya kembali penjualan minyak Iran, dan kompensasi atas kerusakan perang.
Baca Juga: MSCI Umumkan Rebalancing Mei 2026, Lebih Banyak Saham Dikeluarkan dari Indeks Iran juga menekankan kedaulatannya atas Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar seperlima minyak dan gas alam cair global. "Pasar meragukan bahwa 'kesepakatan damai' dapat dicapai," kata analis StoneX, Alex Hodes. Selasa (12/5/2026), Badan Informasi Energi (EIA) mengatakan bahwa mereka sekarang berasumsi selat tersebut akan secara efektif tertutup hingga akhir Mei, yang menyebabkan kerugian pasokan minyak dan gas Timur Tengah yang jauh lebih besar daripada perkiraan sebelumnya. Badan tersebut sebelumnya memperkirakan jalur air tersebut akan ditutup hingga akhir April. Bahkan setelah aliran kembali normal melalui Selat Hormuz, dibutuhkan setidaknya hingga akhir 2026 atau awal 2027 agar produksi minyak dan pola perdagangan kembali ke tingkat sebelum konflik, kata EIA. Gangguan yang terkait dengan hampir tertutupnya selat tersebut telah mendorong produsen untuk mengurangi ekspor, dengan survei Reuters pada hari Senin menunjukkan produksi minyak OPEC pada bulan April turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade.
Baca Juga: Trump Bawa Petinggi Raksasa AS Tesla Hingga Meta ke China, Fokus Lobi Regulasi Bisnis EIA memperkirakan 10,5 juta barel per hari produksi hilang selama bulan April di seluruh Timur Tengah karena penutupan selat, yang membatasi ekspor. Sumber lain memperkirakan kerugian pasokan jauh lebih tinggi. J.P. Hanson, kepala global minyak dan gas di Houlihan Lokey, mengatakan konflik tersebut telah menciptakan kesenjangan pasokan sebesar 14 juta barel per hari. "Pasar sekarang menghadapi defisit agregat miliaran barel, diperparah oleh cadangan strategis yang terkuras dan kapasitas terbatas untuk mengganti volume yang hilang," kata Hanson dalam sebuah email. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan pada hari Senin bahwa gangguan terhadap ekspor minyak melalui selat dapat menunda kembalinya stabilitas pasar hingga tahun 2027, dengan kehilangan sekitar 100 juta barel minyak per minggu.
EKSPOR AS MENINGKAT, PERSEDIAAN MENURUN
Kehilangan pasokan dari Timur Tengah yang berkepanjangan memaksa negara-negara di seluruh dunia untuk menghabiskan persediaan minyak dan gas mereka. EIA sekarang memperkirakan persediaan minyak global akan turun sekitar 2,6 juta barel per hari tahun ini, jauh lebih banyak daripada perkiraan sebelumnya yang memperkirakan penurunan 300.000 barel per hari. Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah diperkirakan telah turun sekitar 2,1 juta barel minggu lalu, menurut jajak pendapat Reuters yang lebih luas terhadap para analis. Persediaan bahan bakar AS juga diperkirakan telah menurun minggu lalu, menurut jajak pendapat tersebut. "Neraca minyak global terus menyempit setiap hari dengan hilangnya pasokan yang dengan mudah melebihi pengurangan permintaan yang disebabkan oleh harga," kata penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates.
Baca Juga: Prancis Masih Selidiki Kemungkinan Mutasi Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius "Hal ini membuat kita tetap optimis, di mana harga minyak mentah berjangka terdekat tampaknya masih memiliki potensi kenaikan $10-12 per barel sebelum harga yang tinggi tersebut memaksa AS, Iran, atau keduanya untuk memberikan konsesi yang signifikan." Para pelaku pasar juga mengamati dengan saksama pertemuan Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada hari Kamis dan Jumat setelah Washington menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan sembilan perusahaan karena memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke Tiongkok. Tarif yang diberlakukan selama perang dagang AS-Tiongkok telah menghentikan sebagian besar impor minyak dan LNG AS oleh Tiongkok, yang bernilai $8,4 miliar pada tahun 2024, tahun sebelum Trump memulai masa jabatan keduanya.