Harga minyak ditutup menguat ke level tertinggi dalam 8 bulan pada Rabu (12/5)



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak menguat ke level tertinggi dalam delapan minggu di tengah tanda-tanda pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang cepat dan perkiraan optimistis untuk permintaan energi.

Rabu (12/5), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli 2021 naik 77 sen atau 1,1%, menjadi US$ 69,32 per barel. 

Serupa, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni 2021 menguat 80 sen atau 1,2% ke level US$ 66,08 per barel. 


Itu merupakan penutupan tertinggi untuk harga Brent sejak 11 Maret dan untuk WTI sejak 5 Maret.

Berdasarkan data Energy Information Administration (EIA), ekspor minyak mentah AS turun di minggu lalu menjadi sekitar 1,8 juta barel per hari (bph), terendah sejak Oktober 2018. Sementara persediaan minyak mentah turun 0,4 juta barel dibandingkan dengan perkiraan penarikan 2,8 juta barel. 

"Ekspor (penurunan) adalah elemen bullish yang menjaga perdagangan tetap ditopang," kata Tony Headrick, analis pasar energi di CHS Hedging. 

Dia mencatat "penurunan stok minyak mentah ditambah dengan kurangnya ekspor adalah pertanda baik."

Baca Juga: Serangan pada saluran pipa Colonial picu krisis bensin dan panic buying

Pedagang mencatat 1 faktor dalam laporan inventaris AS yang membebani harga adalah penurunan 2,2 juta barel per hari dalam total produk minyak yang dipasok menjadi 17,5 juta barel per hari di pekan lalu. Itu adalah penurunan mingguan terbesar dan permintaan mingguan terendah sejak Januari.

Di sisi lain, International Energy Agency (IEA) mengatakan dalam laporan bulanannya bahwa permintaan minyak sudah melebihi pasokan dan kekurangan diperkirakan akan melebar bahkan jika Iran meningkatkan ekspor.

Demikian pula, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Selasa berpegang pada perkiraan untuk pemulihan yang kuat dalam permintaan minyak dunia pada tahun 2021, dengan pertumbuhan di China dan AS lebih besar daripada dampak krisis virus corona di India.

"Harga minyak hari ini mengalami peningkatan pada prospek permintaan positif yang dirilis oleh OPEC dan IEA, yang keduanya keluar dengan konsensus serupa bahwa rata-rata permintaan minyak akan sebesar 96,4 juta barel per hari pada 2021," ujar Louise Dickson, Oil Markets Analyst Rystad Energy.

Baca Juga: Harga minyak kembali naik, ditopang penurunan stok AS

Data ekonomi positif juga mendukung minyak. Ekonomi Inggris yang dilanda pandemi tumbuh lebih kuat dari yang diharapkan pada bulan Maret. Sementara harga konsumen AS bulan April meningkat paling tinggi dalam hampir 12 tahun, karena lonjakan permintaan dalam ekonomi yang dibuka kembali membatasi pasokan.

Sementara itu, jumlah kematian akibat virus corona di India melampaui 250.000 dalam 24 jam terakhir, setelah mencetak rekor paling mematikan sejak pandemi dimulai.

Kekurangan bahan bakar memburuk di wilayah bagian tenggara AS karena penutupan saluran pipa dari Colonial Pipeline, jaringan pipa bahan bakar terbesar di negara itu, memasuki hari keenam.

Colonial, yang mengangkut lebih dari 2,5 juta barel per hari, mengatakan pihaknya berharap untuk memulai kembali sebagian besar jaringan pada akhir minggu ini.

Selanjutnya: Wall Street anjlok terseret aksi jual di tengah kekhawatiran inflasi yang melonjak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari