Harga minyak ditutup menguat lebih dari 1%, ketegangan Timur Tengah jadi faktor utama



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak mentah berhasil ditutup menguat lebih dari 1% pada sesi sebelumnya usai meningkatnya ketegangan Timur Tengah. Namun, kenaikan dibatasi oleh pembatasan baru guna melawan lonjakan kasus Covid-19 yang mengancam pemulihan permintaan energi global.

Kamis (5/8), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2021 ditutup naik 91 sen atau 1,3% ke posisi US$ 71,29 per barel, setelah sebelumnya turun di bawah US$ 70 untuk pertama kalinya sejak 21 Juli. 

Serupa, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2021 juga menguat 1,4%, menjadi US$ 69,09 per barel.


Harga kedua tolok ukur minyak mentah ini turun lebih dari US$ 2 pada hari Rabu ke level terendah dalam dua minggu.

"Pada sesi-sesi sebelumnya benar-benar tentang kekhawatiran terkait varian Delta, dan kemudian Kamis ada kekhawatiran bahwa mungkin kita berlebihan," kata Phil Flynn, Senior Analyst Price Futures Group di Chicago. 

"Kami juga melihat peningkatan risiko geopolitik."

Baca Juga: Harga minyak masih dalam tren penurunan

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat setelah jet Israel menyerang, apa yang dikatakan militernya sebagai tempat peluncuran roket di Lebanon, pada Kamis pagi. Ini dikatakan sebagai tanggapan atas dua roket yang ditembakkan ke Israel dari wilayah Lebanon, dalam peningkatan permusuhan lintas batas di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Pertukaran serangan ini muncul usai serangan terhadap sebuah kapal tanker di lepas pantai Oman pada Kamis pekan lalu. Israel menuduh hal itu dilakukan oleh Iran. Dua anggota awak kapal, seorang warga negara Inggris dan Rumania, tewas. Namun, Iran membantah terlibat.

Ditanya apakah Israel siap untuk menyerang Iran, Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengatakan kepada YNet News pada hari Kamis "ya."

Ketegangan yang meningkat terjadi ketika pembicaraan nuklir antara Iran dan kekuatan Barat yang akan meringankan sanksi terhadap ekspor minyak Teheran tampaknya terhenti.

"Dengan ketegangan yang meningkat di antara Iran dan kekuatan dunia atas serangan pesawat tak berawak minggu lalu, tampaknya pembicaraan kesepakatan nuklir akan panjang dan tidak mungkin memberikan keringanan sanksi segera untuk Iran," jelas Edward Moya, Senior Analyst OANDA.

Mengimbangi ketegangan geopolitik, kekhawatiran atas pemulihan permintaan minyak global tumbuh di tengah lonjakan kasus virus corona.

Jepang siap untuk memperluas pembatasan darurat ke lebih banyak prefektur. Sedangkan China, konsumen minyak terbesar kedua di dunia, telah memberlakukan pembatasan di beberapa kota dan membatalkan penerbangan, mengancam permintaan bahan bakar.

Baca Juga: Harga minyak naik tipis pada pagi ini (5/8), dipicu ketegangan di Timur Tengah

"China sekarang menghadapi krisis COVID-19 yang paling menantang sejak wabah awal dikendalikan," kata analis di konsultan FGE dalam sebuah catatan pada hari Kamis.

Di Amerika Serikat, konsumen minyak terbesar dunia, kasus Covid-19 mencapai level tertinggi dalam enam bulan dengan lebih dari 100.000 infeksi yang dilaporkan pada hari Rabu (4/8), menurut penghitungan Reuters.

Analis di bank investasi UBS mengatakan, mereka memperkirakan harga minyak tetap melanjutkan tren kenaikan meskipun ada kekhawatiran pandemi. UBS  memproyeksikan, minyak mentah Brent akan diperdagangkan antara US$ 75 dan US$ 80 per barel pada paruh kedua tahun 2021.

Selanjutnya: Harga emas spot koreksi 0,4% ke US$ 1.804 per ons troi jelang data tenaga kerja AS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari