Harga Minyak Ditutup Naik Rabu (21/1/2026), Brent ke US$ 65,24 dan WTI ke US$ 60,62



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia ditutup menguat pada perdagangan Rabu (21/1/2026), didorong optimisme pasar terhadap pengetatan pasokan global menyusul gangguan produksi di Kazakhstan serta lambatnya pemulihan ekspor minyak Venezuela.

Melansir Reuters, minyak Brent naik 32 sen atau 0,5% dan ditutup di level US$ 65,24 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 26 sen atau 0,4% ke US$ 60,62 per barel.


Baca Juga: Ancaman Trump: Iran Bakal Dihapus dari Muka Bumi Jika Nekat Melakukan Ini!

Kedua kontrak tersebut sebelumnya juga telah menguat sekitar 1,5% pada sesi perdagangan sebelumnya, setelah Kazakhstan anggota OPEC+ menghentikan sementara produksi di dua ladang minyak besarnya, Tengiz dan Korolev, sejak Minggu (19/1) akibat gangguan distribusi listrik.

Selain itu, minyak dari ladang raksasa Kashagan untuk pertama kalinya dialihkan ke pasar domestik Kazakhstan.

Langkah ini dilakukan menyusul hambatan pengiriman di terminal CPC Laut Hitam, setelah sejumlah peralatan terminal mengalami kerusakan serius akibat serangan drone, menurut empat sumber industri kepada Reuters.

Reuters juga melaporkan bahwa operator ladang minyak Tengiz, Tengizchevroil (TCO), telah menetapkan status force majeure atas pengiriman minyak mentah melalui sistem pipa CPC.

Baca Juga: Harga Emas Pangkas Kenaikan Usai Trump Lunakkan Ancaman Tarif Greenland

Berdasarkan sumber industri, produksi di dua ladang utama Kazakhstan tersebut berpotensi terhenti selama tujuh hingga sepuluh hari ke depan.

Dari Amerika Selatan, volume ekspor minyak Venezuela di bawah kesepakatan pasokan utama senilai US$ 2 miliar dengan Amerika Serikat tercatat hanya sekitar 7,8 juta barel hingga Rabu.

Data pelacakan kapal dan dokumen perusahaan minyak negara PDVSA menunjukkan lambatnya kemajuan ini menghambat upaya Venezuela untuk sepenuhnya membalikkan pemangkasan produksi sebelumnya.

Di sisi lain, pasar juga mencermati data persediaan minyak AS. Berdasarkan jajak pendapat awal Reuters, stok minyak mentah dan bensin AS diperkirakan naik sekitar 1,7 juta barel pada pekan lalu, sementara persediaan distilat diperkirakan turun.

Badan Energi Internasional (IEA) turut merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 dalam laporan pasar minyak bulanan terbarunya.

Baca Juga: Harga Emas Pangkas Kenaikan Usai Trump Lunakkan Ancaman Tarif Greenland

Revisi tersebut mengindikasikan surplus pasokan global pada tahun ini akan sedikit lebih sempit dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Namun demikian, ketegangan geopolitik yang meningkat tetap membayangi pasar. Analis UBS Giovanni Staunovo menilai tekanan terhadap pasar minyak muncul seiring kekhawatiran bahwa kebijakan tarif dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan mendorong sentimen risk-off di kalangan investor.

Pelaku pasar kini menantikan data persediaan mingguan dari American Petroleum Institute (API) yang dijadwalkan rilis Rabu malam waktu setempat, serta data resmi pemerintah AS yang akan diumumkan pada Kamis (22/1), tertunda satu hari akibat hari libur federal di Amerika Serikat.

Selanjutnya: Indonesia dan Beberapa Negara Ini Mendapat Undangan Bergabung Dewan Perdamaian Gaza