Harga Minyak Dunia Ambles 4% Senin (15/6): Brent ke US$ 83,75 & WTI ke US$ 80,87



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia anjlok lebih dari 4% pada perdagangan Senin (15/6/2026) dan menyentuh level terendah sejak Maret 2026 setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$ 3,58 atau 4,1% menjadi US$ 83,75 per barel pada awal perdagangan Asia.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah US$ 4,01 atau 4,72% ke level US$ 80,87 per barel.


Baca Juga: Dolar AS Melemah ke Level Terendah 10 Hari, Pasar Sambut Damai AS-Iran

Kedua kontrak tersebut sebelumnya juga telah merosot lebih dari 3% pada perdagangan Jumat (12/6).

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang negaranya berperan sebagai mediator mengatakan, AS dan Iran akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Swiss pada Jumat mendatang.

Presiden AS Donald Trump juga menyatakan Selat Hormuz akan kembali dibuka tanpa pungutan biaya (toll free), sementara blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan diakhiri.

Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, Mehr News Agency, melaporkan rancangan kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari dengan pengaturan yang dilakukan oleh Iran.

Baca Juga: Singapura Bangun Sistem Kliring Emas OTC, Buka Layanan Penyimpanan Emas Bank Sentral

Chief Market Analyst KCM Trade Tim Waterer menilai, pasar kini mulai menghapus premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak selama konflik berlangsung.

"Premi risiko geopolitik yang sebelumnya terbentuk pada harga minyak kini mulai terkikis cukup agresif karena pelaku pasar memperhitungkan potensi pulihnya arus pasokan minyak global," ujar Waterer.

Selama lebih dari tiga bulan terakhir, penutupan Selat Hormuz telah mengganggu jutaan barel pasokan minyak dan gas dunia. Selat tersebut merupakan jalur transit sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.

Meski demikian, investor masih mencermati seberapa cepat negara-negara produsen di Timur Tengah dapat memulihkan produksi dan ekspor energi setelah sejumlah fasilitas energi mengalami kerusakan akibat perang.

Analis Komoditas Commonwealth Bank of Australia (CBA) Vivek Dhar memperkirakan, harga minyak Brent berpotensi turun menuju US$ 80 per barel hingga akhir tahun apabila arus distribusi energi melalui Selat Hormuz kembali berjalan normal.

Baca Juga: Pemimpin Dunia Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran, Harapkan Stabilitas Ekonomi Global

"Pasar minyak sebenarnya hanya membutuhkan pemulihan aliran pasokan hingga sekitar 60%-70% dari level sebelum perang untuk kembali pada kondisi surplus pasokan seperti sebelumnya," kata Dhar.

Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan kedua negara masih akan melanjutkan negosiasi menuju kesepakatan yang lebih komprehensif selama masa gencatan senjata 60 hari.

Selain itu, kelompok negara E4 yang terdiri dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia menyatakan kesiapan mereka untuk mencabut sanksi terhadap Iran apabila terdapat kemajuan dalam isu program nuklir Teheran.

Meski harga minyak tertekan, analis IG Tony Sycamore menilai ruang penurunan lebih lanjut masih terbatas karena pasar tetap menunggu perkembangan negosiasi lanjutan terkait isu nuklir Iran.

Baca Juga: 10 Pemain Afrika Termahal di Piala Dunia 2026: Yan Diomande Teratas

"Masih ada banyak ketidakpastian dalam proses negosiasi selama 60 hari ke depan, terutama terkait program nuklir Iran. Karena itu, sulit melihat harga minyak turun jauh lebih dalam dalam waktu dekat," ujarnya.