Harga Minyak Dunia Anjlok 2% Lebih Usai Trump Tunda Serangan ke Iran



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia anjlok lebih dari 2% pada perdagangan Asia, Selasa (19/5/2026), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan menunda rencana serangan terhadap Iran guna membuka ruang negosiasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Pernyataan Trump meredakan kekhawatiran pasar atas eskalasi perang yang sebelumnya mendorong harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Kontrak minyak Brent pengiriman Juli turun US$ 3,01 atau 2,7% menjadi US$ 109,09 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Juni melemah US$ 1,38 atau 1,3% ke level US$ 107,28 per barel.


Kontrak WTI Juni akan berakhir pada Selasa ini. Adapun kontrak WTI Juli yang lebih aktif diperdagangkan turun US$2,06 atau 2% menjadi US$102,32 per barel.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 7% Setelah Trump Prediksi Perang Segera Berakhir

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam setelah konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran terganggunya pasokan global, terutama karena penutupan efektif Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Trump mengatakan terdapat “peluang sangat besar” bagi Washington dan Teheran untuk mencapai kesepakatan yang mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah ia mengumumkan penundaan aksi militer terhadap Iran.

Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer menilai pernyataan Trump memang meredakan tekanan jangka pendek di pasar minyak, namun risiko utama masih membayangi.

"Pasar kini menunggu apakah komentar Trump benar-benar mengarah pada deeskalasi atau hanya jeda taktis sementara," ujar Waterer.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 2% di Tengah Kabar Iran Tinjau Proposal Damai AS

Ia menambahkan, respons Iran dan kondisi pengiriman tanker di Selat Hormuz akan menjadi faktor utama penentu arah harga minyak selanjutnya.

Di tengah perkembangan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengonfirmasi bahwa posisi terbaru Teheran telah disampaikan kepada AS melalui Pakistan. Namun, ia tidak menjelaskan detail proposal tersebut.

Seorang pejabat Pakistan yang enggan disebut namanya mengatakan Islamabad telah menyampaikan proposal baru antara kedua negara, meski proses negosiasi disebut masih berjalan lambat.

Di sisi lain, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan Washington disebut bersedia melonggarkan sanksi ekspor minyak Iran selama proses negosiasi berlangsung. Namun, seorang pejabat AS membantah laporan tersebut.

Sentimen pasar juga dipengaruhi keputusan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang memperpanjang izin pengecualian sanksi selama 30 hari bagi negara-negara yang rentan energi untuk tetap membeli minyak Rusia via jalur laut.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari US$ 3 per Barel, Dipicu Penurunan Stok AS

Dari sisi pasokan, Departemen Energi AS melaporkan cadangan minyak strategis Negeri Paman Sam turun hingga 9,9 juta barel pekan lalu. Penurunan itu membuat stok tersisa sekitar 374 juta barel, level terendah sejak Juli 2024.

Direktur Eksekutif International Energy Agency Fatih Birol mengatakan persediaan minyak komersial global kini menyusut cepat akibat konflik dan gangguan pengiriman, dengan sisa pasokan hanya cukup untuk beberapa pekan ke depan.