Harga Minyak Dunia Anjlok 6% Selasa (10/3), Trump Prediksi Perang Iran Segera Mereda



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia turun tajam pada Selasa (10/3/2026) setelah pada sesi sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.

Penurunan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memprediksi perang di Timur Tengah dapat segera berakhir sehingga meredakan kekhawatiran gangguan pasokan minyak global yang berkepanjangan.

Baca Juga: Viralnya Bayi Monyet Salju “Punch” Soroti Konflik Petani dan Satwa Liar di Jepang


Melansir Reuters, harga minyak mentah acuan global Brent turun US$ 6,51 atau sekitar 6,6% menjadi US$ 92,45 per barel pada pukul 00.18 GMT.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot US$ 6,12 atau 6,5% ke level US$ 88,65 per barel.

Sehari sebelumnya, harga minyak sempat melonjak melampaui US$ 100 per barel. Bahkan, Brent dan WTI sempat menyentuh level tertinggi masing-masing US$ 119,50 dan US$ 119,48 per barel level tertinggi sejak pertengahan 2022.

Kenaikan tersebut dipicu oleh pemangkasan pasokan oleh Arab Saudi dan produsen lainnya di tengah meluasnya konflik antara AS dan Israel dengan Iran yang menimbulkan kekhawatiran gangguan besar pada pasokan minyak global.

Baca Juga: Survei NAB: Aktivitas Bisnis Australia Stabil Februari 2026, Namun Optimisme Melemah

Namun harga kemudian berbalik turun setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pembicaraan telepon dengan Trump dan menyampaikan sejumlah proposal untuk mempercepat penyelesaian konflik Iran.

Informasi ini disampaikan oleh seorang ajudan Kremlin dan dinilai meredakan kekhawatiran gangguan pasokan minyak dalam jangka panjang.

Dalam wawancara dengan CBS News pada Senin (9/3/2026), Trump mengatakan bahwa perang melawan Iran kemungkinan akan segera selesai.

Ia menyebut Washington telah bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan awalnya yang memproyeksikan konflik berlangsung sekitar empat hingga lima minggu.

Menanggapi pernyataan tersebut, pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran menegaskan bahwa pihaknya yang akan menentukan kapan perang berakhir.

IRGC juga memperingatkan bahwa Teheran tidak akan membiarkan “satu liter pun minyak” diekspor dari kawasan tersebut jika serangan AS dan Israel terus berlanjut, menurut laporan media pemerintah Iran pada Selasa.

Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Rebound 3% Selasa (10/3), G7 Bergerak Stabilkan Pasar Energi

Meski demikian, pernyataan tersebut tidak mampu mengangkat harga minyak. Tekanan juga datang dari laporan bahwa Trump tengah mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia serta kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat sebagai bagian dari upaya menahan lonjakan harga minyak global di tengah konflik Iran.

Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan, volatilitas harga minyak diperkirakan masih tinggi dalam waktu dekat.

“Melihat perkembangan dalam 24 jam terakhir, saya memperkirakan harga minyak mentah akan tetap sangat fluktuatif dan diperdagangkan dalam kisaran luas antara sekitar US$ 75 hingga US$ 105 per barel dalam beberapa sesi ke depan,” ujarnya dalam sebuah catatan.

Di sisi lain, produsen minyak di kawasan Teluk mulai memangkas produksi setelah konflik AS-Israel dengan Iran mengganggu jalur pengiriman di kawasan tersebut.

Selama akhir pekan, Irak memangkas produksi di ladang minyak utama di wilayah selatan hingga 70% menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari.

Baca Juga: Trump: AS Akan Hantam Iran 20 Kali Lebih Keras Jika Tutup Selat Hormuz

Perusahaan energi negara Kuwait Petroleum Corporation juga mulai mengurangi produksi dan bahkan menyatakan kondisi force majeure.

Selain itu, sumber industri menyebutkan bahwa Arab Saudi juga telah mulai menurunkan produksinya.

Sementara itu, negara-negara anggota Group of Seven (G7) pada Senin menyatakan siap mengambil “langkah-langkah yang diperlukan” untuk merespons lonjakan harga minyak global, meskipun belum berkomitmen untuk segera melepaskan cadangan minyak darurat.