Harga Minyak Dunia Anjlok 7% Setelah Trump Prediksi Perang Segera Berakhir



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak dunia merosot tajam pada Selasa (10/3) setelah sebelumnya melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.

Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperkirakan perang di Timur Tengah dapat segera berakhir, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun US$ 6,79 atau sekitar 6,9% menjadi US$ 92,17 per barel pada pukul 08.40 GMT. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate crude (WTI), juga melemah US$ 6,55 atau 6,9% ke level US$ 88,22 per barel.


Sebelumnya pada perdagangan awal, kedua kontrak tersebut sempat anjlok hingga sekitar 11% sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugiannya.

Sempat Tembus US$ 100 per Barel

Pada sesi perdagangan sebelumnya, harga minyak melonjak melewati US$ 100 per barel—level tertinggi sejak pertengahan 2022. Lonjakan tersebut dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan global di tengah konflik yang meluas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Baca Juga: Harga Minyak Terancam: Aramco Peringatkan Konsekuensi Katastropik!

Pemangkasan produksi oleh Arab Saudi dan sejumlah produsen minyak lainnya juga memperkuat kekhawatiran pasar bahwa pasokan energi global akan semakin ketat.

Namun, harga kemudian mulai terkoreksi setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin, melakukan pembicaraan telepon dengan Trump dan menyampaikan sejumlah proposal yang bertujuan mempercepat penyelesaian konflik.

Informasi tersebut disampaikan oleh seorang ajudan Kremlin dan membantu meredakan kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan minyak.

Dalam wawancara dengan CBS News pada Senin, Trump mengatakan bahwa perang melawan Iran hampir selesai dan kemajuan militer Washington jauh lebih cepat dari perkiraan awalnya yang memprediksi konflik berlangsung selama empat hingga lima minggu.

Pasar Dinilai Bereaksi Berlebihan

Suvro Sarkar, pimpinan tim sektor energi di DBS Bank, menilai komentar Trump mengenai potensi perang yang singkat telah menenangkan pasar.

Menurutnya, pasar sebelumnya bereaksi berlebihan terhadap kenaikan harga minyak pada hari sebelumnya, dan kini juga menunjukkan reaksi berlebihan terhadap penurunan harga.

Baca Juga: Presiden Dewan Uni Eropa Sebut Rusia Jadi Penerima Manfaat Perang Timur Tengah

Ia menambahkan bahwa harga minyak acuan Timur Tengah seperti Murban dan Dubai masih diperdagangkan jauh di atas US$ 100 per barel, sehingga kondisi fundamental di lapangan sebenarnya belum banyak berubah.

Iran Ancam Hentikan Ekspor Minyak Kawasan

Menanggapi pernyataan Trump, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menegaskan bahwa mereka yang akan menentukan akhir perang.

Melalui pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, juru bicara IRGC menyatakan Teheran tidak akan mengizinkan “satu liter pun minyak” diekspor dari kawasan tersebut jika serangan Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut.

Pernyataan tersebut kembali menyoroti potensi risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat produksi energi dunia.

AS Pertimbangkan Pelonggaran Sanksi Rusia

Di sisi lain, pemerintahan Trump juga dilaporkan tengah mempertimbangkan sejumlah opsi untuk menekan lonjakan harga minyak global. Salah satu langkah yang dibahas adalah melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia serta melepas cadangan minyak darurat.

Analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, mengatakan wacana pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia, sinyal meredanya konflik, serta kemungkinan negara-negara G7 menggunakan cadangan minyak strategis memberikan pesan yang sama kepada pasar: pasokan minyak diperkirakan tetap mengalir ke pasar global.

Baca Juga: Perang Iran Picu Krisis LPG di India, Restoran Terancam Tutup

Ketika para pelaku pasar melihat jalur pasokan masih dapat dipertahankan, premi risiko atau panic premium yang sebelumnya mendorong harga minyak menembus US$ 100 per barel mulai menghilang dan harga minyak pun berbalik turun.

Proyeksi Harga Minyak Tetap

Meski demikian, bank investasi Goldman Sachs menyatakan belum mengubah proyeksi harga minyaknya karena situasi geopolitik masih sangat dinamis.

Bank tersebut tetap memperkirakan harga minyak Brent berada di kisaran US$ 66 per barel pada kuartal IV 2026, sementara WTI diproyeksikan berada di sekitar US$ 62 per barel.

Sementara itu, negara-negara anggota Group of Seven pada Senin menyatakan siap mengambil “langkah-langkah yang diperlukan” untuk merespons lonjakan harga minyak global. Namun, mereka belum secara eksplisit berkomitmen untuk melepas cadangan minyak darurat.