Harga Minyak Dunia Anjlok di Bawah US$80, Pasar Sambut Kembalinya Minyak Iran



KONTAN.CO.ID – SINGAPURA/MILAN. Harga minyak mentah dunia turun tajam pada Rabu (17/6/2026) setelah muncul kabar bahwa minyak Iran berpotensi kembali memasuki pasar global dalam waktu dekat. Prospek tambahan pasokan tersebut dinilai dapat membantu meredakan tekanan inflasi sekaligus mendorong penurunan imbal hasil obligasi di berbagai negara.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun hingga di bawah level US$80 per barel dan kini telah merosot lebih dari sepertiga dibandingkan puncak harga sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh laporan bahwa Amerika Serikat akan mencabut sanksi terhadap ekspor minyak Iran sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Harapan akan bertambahnya pasokan minyak dari Iran juga memperkuat optimisme mengenai pulihnya ekspor energi dari kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong reli di pasar obligasi global dan menekan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), meskipun konflik yang berlangsung sebelumnya telah menguras cadangan minyak strategis.


Ekonom Westpac, Luka Belobrajdic, mengatakan potensi ekspor Iran cukup signifikan bagi pasar energi dunia.

"Total ekspor Iran dapat mendekati sekitar setara dengan 2% dari permintaan minyak global. Namun, pelonggaran sanksi kemungkinan tidak akan terjadi secara langsung dan akan sangat bergantung pada keberlanjutan perdamaian," ujarnya.

Di pasar obligasi Eropa, imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun yang menjadi acuan kawasan euro turun untuk hari kelima berturut-turut dan menyentuh level terendah sejak awal April. Yield terakhir tercatat turun 1,6 basis poin menjadi 2,91%.

Baca Juga: China Ikuti Barat, Revolusi ETF Aktif Resmi Dimulai

Sementara itu, imbal hasil obligasi Inggris juga melemah tajam setelah inflasi Mei secara tak terduga bertahan di level terendah dalam 13 bulan, yakni 2,8%, hanya sehari sebelum Bank of England mengumumkan keputusan suku bunga terbarunya.

Di Amerika Serikat, imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun stabil di kisaran 4,43%, turun sekitar 23 basis poin dibandingkan puncaknya pada Mei lalu.

Detail Kesepakatan AS-Iran Masih Terbatas

Meski demikian, rincian kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan ditandatangani pada Jumat mendatang masih belum banyak dipublikasikan. Selain itu, penutupan Selat Hormuz selama tiga bulan terakhir telah membuat cadangan minyak Amerika Serikat berada di level terendah sejak 1983.

Turunnya harga minyak dinilai berpotensi mengurangi kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi di Eropa yang selama ini bergantung pada impor energi. Pasar saham Eropa sendiri sepanjang tahun ini masih tertinggal dibandingkan indeks-indeks Wall Street yang didominasi saham teknologi.

Strategis Deutsche Bank, Maximilian Uleer, menilai harga energi yang lebih rendah dapat memberikan dorongan positif bagi aktivitas ekonomi.

"Harga yang lebih rendah dapat mendorong pemulihan sektor manufaktur dan meningkatkan sentimen konsumen," katanya.

Atas dasar itu, Deutsche Bank juga mengurangi preferensinya terhadap saham Amerika Serikat dan mulai melihat prospek yang lebih baik bagi pasar Eropa.

Saham BMW Tertekan, Bursa Eropa Bergerak Terbatas

Indeks STOXX 600 Eropa naik tipis 0,1% dan tetap berada di dekat rekor tertinggi yang dicapai pada awal pekan.

Namun, saham BMW anjlok sekitar 8% setelah produsen otomotif asal Jerman tersebut memangkas proyeksi kinerja tahun 2026. Perusahaan menyebut perlambatan ekonomi di China serta dampak perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebagai faktor utama yang menekan prospek bisnisnya.

Sementara itu, indeks FTSE 100 Inggris turun sekitar 0,1%.

Di Asia, indeks saham yang banyak dihuni perusahaan semikonduktor di Jepang dan Korea Selatan relatif mampu mengabaikan tekanan dari aksi jual saham chip di Wall Street. Meski demikian, pelemahan saham TSMC membatasi kenaikan indeks utama Taiwan.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik sekitar 0,4%, sedangkan di China kenaikan saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) mampu mengimbangi pelemahan saham sektor konsumsi setelah data penjualan ritel menunjukkan hasil yang lemah.

Baca Juga: Inflasi Afrika Selatan Naik, Bank Sentral Belum Tentu Lanjutkan Kenaikan Bunga

Pasar Menanti Debut Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada debut Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve. Pelaku pasar menunggu bagaimana arah kebijakan moneter yang akan diambil di tengah ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat masih berpotensi menaikkan suku bunga tahun ini.

Euro hanya menguat tipis sepanjang pekan dan bertahan di sekitar US$1,16. Kenaikan suku bunga Jepang sehari sebelumnya juga belum mampu mengangkat nilai tukar yen secara signifikan, yang bertahan di kisaran 160,2 per dolar AS.

Para analis memperkirakan perubahan suku bunga The Fed pada pertemuan kali ini kecil kemungkinannya terjadi. Fokus utama justru tertuju pada konferensi pers, pandangan Kevin Warsh, dan proyeksi terbaru anggota komite kebijakan moneter.

Direktur riset AFS Group, Arne Petimezas, mengatakan: "Saya tidak melihat peluang penurunan maupun kenaikan suku bunga dalam 12 bulan ke depan. Jika Kevin Warsh benar-benar memilih menaikkan suku bunga, yang menurut saya merupakan risiko yang ada, maka kemungkinan kenaikannya tidak hanya satu kali."

Sementara itu, bank sentral Swedia (Riksbank) mempertahankan suku bunga acuannya, tetapi memberikan sinyal adanya kemungkinan kenaikan suku bunga di masa mendatang.

Di pasar komoditas, harga emas yang sebelumnya telah turun lebih dari 20% dari puncaknya pada Januari kembali menguat dari area dukungan sekitar US$4.000 per ons dan terakhir diperdagangkan di kisaran US$4.325 per ons. Adapun Bitcoin berhasil bertahan di atas level US$64.000 dan diperdagangkan di sekitar US$65.400.