Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Terendah Sepekan, Ini Pemicunya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026) dan menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan.

Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya harapan pasar terhadap penyelesaian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sementara pelaku pasar terus mencermati perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent turun US$ 1,75 atau 1,98% menjadi US$ 86,61 per barel pada pukul 07.39 GMT (14:39 WIB), setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak 17 Juli. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 1,26 atau 1,53% menjadi US$ 81,35 per barel, sekaligus menjadi level terendah sejak 20 Juli.


Presiden AS Donald Trump pada Senin (27/7/2026) mengatakan bahwa Washington tengah melakukan pembicaraan yang berjalan positif dengan Iran.

"Kami sedang melakukan pembicaraan yang baik dengan Iran dan ada peluang untuk mencapai penyelesaian," ujar Trump.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok 10,8%, Saham Samsung dan SK Hynix Jadi Biang Tekanan

Meski demikian, Trump menegaskan serangan militer AS dapat kembali dilakukan apabila proses negosiasi gagal. Di sisi lain, Iran juga menyampaikan peringatan akan melakukan pembalasan jika situasi kembali memanas.

Analis UBS Giovanni Staunovo menilai optimisme pasar didorong oleh upaya diplomatik terbaru terkait jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

"Meskipun arus kapal yang melintasi Selat Hormuz masih rendah, pasar berharap situasi akan membaik seiring adanya pembicaraan baru antara Oman dan Iran mengenai mekanisme baru pengelolaan Selat Hormuz," kata Staunovo.

Seorang sumber dari kawasan Teluk kepada Reuters mengatakan Oman telah mengajukan proposal kepada Iran untuk membentuk mekanisme regional bersama dalam mengelola Selat Hormuz, termasuk penerapan skema biaya sukarela bagi kapal yang melintas.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia yang mengalirkan sekitar seperlima konsumsi minyak global. Jalur ini menjadi titik strategis bagi ekspor minyak dari negara-negara produsen di Timur Tengah.

Baca Juga: BYD Luncurkan Mobil Listrik Mini Racco di Jepang, Bidik Dongkrak Penjualan

Gangguan Pelayaran Masih Membayangi Pasokan Minyak

Konflik di kawasan tidak hanya mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, tetapi juga berdampak pada lalu lintas kapal di Selat Bab el-Mandeb.

Pekan lalu, harga minyak melonjak tajam akibat kekhawatiran bahwa serangan di kawasan tersebut dapat memicu penutupan jalur Bab el-Mandeb, yang merupakan jalur pengiriman minyak terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz.

Namun, berdasarkan data pelacakan kapal Kpler, jumlah kapal yang melintasi Bab el-Mandeb meningkat menjadi 28 kapal pada Senin, tertinggi dalam empat hari terakhir. Sementara itu, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih tergolong rendah.

Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa risiko gangguan pasokan masih tinggi. Hal ini terjadi setelah Arab Saudi menyatakan berhasil menembak jatuh sejumlah drone yang menargetkan fasilitas perminyakan, termasuk di wilayah Riyadh.

Arab Saudi menyebut kelompok bersenjata yang didukung Iran meluncurkan drone tersebut dari wilayah Irak dan menegaskan bahwa kerajaan memiliki hak untuk memberikan respons.

Baca Juga: Google Terancam Digugat Hingga US$10 Miliar di Eropa

Secara terpisah, kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah menyerang jaringan Pipa Minyak East-West yang mengalirkan minyak menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Serangan tersebut disebut sebagai balasan atas operasi drone Arab Saudi.

Goldman Sachs: Harga Brent Berpotensi Turun ke US$ 80

Bank investasi Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent dapat turun menuju kisaran US$ 80 per barel pada akhir tahun apabila Selat Hormuz kembali beroperasi secara normal pada kuartal IV.

Namun, Goldman Sachs juga memperingatkan bahwa gangguan pelayaran di Laut Merah serta potensi serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi masih dapat menjadi sumber risiko yang mendorong kenaikan harga minyak mentah maupun produk olahan.

Sementara itu, dari sisi fundamental pasar, survei awal Reuters menunjukkan persediaan minyak mentah AS kemungkinan mengalami penurunan pada pekan lalu, seiring berkurangnya stok bensin. Di sisi lain, persediaan produk distilat diperkirakan justru mengalami peningkatan.