KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Fokus utama pelaku pasar kini tertuju pada kelancaran arus pasokan melalui Strait of Hormuz jalur vital yang menyalurkan lebih dari 20% perdagangan minyak global. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 8% ke level tertinggi dalam beberapa bulan pada perdagangan Senin (2/3/2026), menjadi respons pertama pasar setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran dan menewaskan Pemimpin Tertingginya, Ali Khamenei.
- Citi memperkirakan Brent akan bergerak di kisaran US$80–US$90 per barel dalam skenario dasar selama setidaknya sepekan ke depan. Namun, harga bisa kembali ke US$70 jika terjadi de-eskalasi.
- Goldman Sachs menghitung adanya premi risiko sekitar US$18 per barel dalam harga minyak saat ini. Jika hanya 50% aliran melalui Selat Hormuz terhenti selama sebulan, premi tersebut diperkirakan menyusut menjadi sekitar US$4 per barel. Meski begitu, Goldman mengingatkan harga bisa melonjak lebih tinggi jika pasar menilai gangguan pasokan akan berlangsung lama.
- Wood Mackenzie menyebut harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel jika arus tanker melalui Selat Hormuz tidak segera pulih. Mereka menilai gangguan ini menciptakan “dual supply shock” bukan hanya menghentikan ekspor saat ini, tetapi juga membuat tambahan produksi dan kapasitas cadangan OPEC sulit diakses selama jalur laut tersebut tertutup.