KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) masih dibayangi tekanan
bearish di tengah ketidakpastian perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Harapan meredanya ketegangan melalui jalur diplomasi berpotensi menekan harga minyak, meski risiko eskalasi konflik masih dapat memicu gejolak pasar. Melansir
Trading Economics pada Rabu (4/11/2026) pukul 10.58 WIB, harga minyak WTI bertengger di level US$ 95,7 per barel atau melemah 0,44% secara harian dan 7% sepekan terakhir.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, secara teknikal tren pelemahan harga minyak WTI masih cukup dominan pada grafik harian (daily). Hal ini tercermin dari terbentuknya pola
double top dan indikasi
bearish divergence yang menunjukkan momentum kenaikan harga mulai melemah.
Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi 3% Dalam Sepekan, Analis Melihat Peluang Rebound Pola
double top menggambarkan kondisi ketika harga gagal menembus level puncak yang sama sebanyak dua kali. Sementara itu, bearish divergence mengindikasikan melemahnya momentum kenaikan berdasarkan perbedaan antara pergerakan harga dan indikator teknikal. Dengan kondisi tersebut, WTI berpotensi melanjutkan koreksi menuju area support US$ 89,97-US$ 86,82 per barel dalam jangka pendek. "Zona tersebut menjadi area teknikal yang perlu diperhatikan untuk melihat apakah tekanan jual masih berlanjut atau mulai tertahan. Selama tren pelemahan belum menunjukkan tanda pembalikan yang kuat, peluang koreksi lebih dalam tetap perlu diwaspadai," ujar Geraldo dalam risetnya, Rabu (4/11/2026). Dari sisi fundamental, pergerakan harga minyak masih sensitif terhadap perkembangan hubungan AS dan Iran. Harapan tercapainya kesepakatan diplomatik antara kedua negara sebelumnya mendorong penurunan harga minyak karena meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Demokrat Kuasai DPR AS, Investor Waspadai Regulasi AI dan Risiko Fiskal Jika negosiasi menghasilkan kesepakatan konkret, risiko gangguan distribusi minyak global berpotensi berkurang. Kondisi tersebut dapat menekan premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga minyak. Namun, ketidakpastian masih membayangi proses diplomasi tersebut. Belum tercapainya kesepakatan membuat pasar tetap mewaspadai kemungkinan memburuknya hubungan kedua negara. Eskalasi konflik berpotensi kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah dan mendorong kenaikan harga. Dengan demikian, pasar minyak menghadapi dua sentimen yang berlawanan. Prospek meredanya konflik AS-Iran berpotensi menekan harga, sedangkan risiko eskalasi geopolitik dapat kembali menjadi penopang harga minyak mentah. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News