KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak tipis pada perdagangan Jumat (23/10/2026) di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi setelah serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, salah satu eksportir minyak terbesar dunia. Sebelumnya, harga minyak melonjak sekitar 4% hingga menyentuh level tertinggi dalam lima bulan. Mengutip
Reuters, Jumat (23/10/2026) pukul 00.30 GMT, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka turun 21 sen atau 0,2% menjadi US$ 112,96 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 27 sen atau 0,3% ke US$ 98,12 per barel.
Baca Juga: Nikkei Anjlok 1,71%, Aksi Jual Saham Teknologi Wall Street Menular ke Jepang Secara mingguan, harga WTI berpotensi mengakhiri tren kenaikan selama dua pekan berturut-turut. Sebaliknya, Brent berpeluang mencatat kenaikan mingguan untuk ketiga kalinya secara beruntun setelah ditutup pada level tertinggi sejak 4 Mei pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Kekhawatiran terhadap pasokan minyak meningkat setelah Saudi Aramco pada Kamis memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, wilayah pesisir Teluk yang berdekatan dengan Bahrain. Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman.
Baca Juga: Pertumbuhan Manufaktur Jepang Melambat ke Level Terendah 7 bulan pada Oktober 2026 Konflik antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional telah berlangsung sejak kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran bergerak menuju Bab el-Mandeb. Selat tersebut merupakan jalur pelayaran strategis di pintu masuk Laut Merah. Selain ketegangan di Timur Tengah, gangguan produksi minyak di Libya turut menambah kekhawatiran terhadap pasokan global. Kepala National Oil Corporation Libya mengatakan kepada Reuters pada Kamis bahwa katup pipa minyak yang mengalirkan produksi dari ladang Hamada dan Tahara menuju pelabuhan Zawiya telah ditutup. Penutupan tersebut menyebabkan produksi dari kedua ladang minyak itu berkurang. Perkembangan geopolitik lain yang turut dicermati pasar adalah peluang dimulainya kembali perundingan Rusia dan Ukraina.
Baca Juga: Ketegangan Di Perbatasan Korea Meningkat, Ini Kondisinya Rusia pada Rabu menyatakan siap melanjutkan pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat pada bulan depan, setelah Presiden Vladimir Putin bertemu utusan AS Steve Witkoff di St Petersburg. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy berharap perundingan tersebut dapat berlangsung pada awal November. Pembicaraan itu akan menjadi yang pertama sejak Februari. Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia pada 2025, setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi, berdasarkan data energi AS. Sanksi yang dijatuhkan untuk membatasi pasokan energi Rusia ke pasar global setelah invasi ke Ukraina pada 2022 turut menjadi faktor yang memengaruhi harga minyak dunia.