KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bertahan di dekat level tertinggi enam bulan pada Jumat (30/1/2026), seiring investor mencermati perkembangan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan global. Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent turun tipis 7 sen menjadi US$70,64 per barel pada pukul 10.30 waktu setempat. Kontrak Brent untuk pengiriman Maret berakhir pada Jumat, sementara kontrak April yang lebih aktif melemah 1 sen ke level US$69,58 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 3 sen menjadi US$65,39 per barel.
Baca Juga: Guterres Peringatkan PBB di Ambang Kolaps Keuangan Sehari sebelumnya, harga minyak sempat menyentuh level tertinggi sejak awal Agustus setelah sejumlah sumber menyebut Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan langkah terhadap Iran, termasuk kemungkinan serangan terbatas. Wacana tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan minyak. Meski demikian, baik AS maupun Iran belakangan memberi sinyal kesiapan untuk berdialog. Namun, Teheran menegaskan bahwa kemampuan pertahanannya tidak boleh menjadi bagian dari pembahasan dalam perundingan apa pun. Di sisi lain, Amerika Serikat memperkuat tekanan dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap tujuh warga negara Iran serta sedikitnya satu entitas, di tengah peningkatan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir. Harga minyak juga berada di jalur kenaikan bulanan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Brent berpotensi mencatat lonjakan bulanan terbesar sejak Januari 2022, sementara WTI bersiap membukukan kenaikan bulanan tertinggi sejak Juli 2023.
Baca Juga: Panel WTO Menangkan Gugatan China atas Subsidi Energi Bersih AS Namun, penguatan dolar AS dari posisi terendah empat tahun awal pekan ini menahan laju kenaikan harga minyak. Penguatan dolar terjadi setelah Trump mengumumkan rencananya menunjuk mantan Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh sebagai Ketua bank sentral AS, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei mendatang. Dolar yang lebih kuat cenderung menekan permintaan minyak, karena membuat harga komoditas tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, mengatakan perubahan sentimen pasar juga dipengaruhi oleh meningkatnya kembali produksi minyak mentah AS setelah penutupan fasilitas, serta mendekatnya pemulihan produksi ladang minyak Tengiz di Kazakhstan. Dengan reli harga yang kuat sepanjang pekan, aksi ambil untung menjelang akhir pekan dinilai wajar.
Baca Juga: Pemerintah Belanda Rencanakan 'Pajak Kebebasan' untuk Tingkatkan Belanja Pertahanan Selain itu, periode puncak pemeliharaan kilang minyak utama Rusia tahun ini diperkirakan terjadi pada bulan ini dan September, berdasarkan perhitungan Reuters dari data sumber industri. Meski risiko geopolitik masih membayangi, survei Reuters terhadap 32 analis menunjukkan mayoritas memperkirakan harga minyak akan bertahan di sekitar US$60 per barel sepanjang tahun ini, karena potensi kelebihan pasokan dipandang mampu mengimbangi risiko gangguan akibat ketegangan geopolitik.