KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah dunia ditutup menguat sekitar 1% pada perdagangan Rabu (2/9/2026), di tengah volatilitas tinggi. Kenaikan harga dipicu kembali meningkatnya serangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Melansir
Reuters, Kontrak berjangka Brent ditutup naik 98 sen atau 1% menjadi US$ 95,63 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 79 sen atau 0,9% menjadi US$ 91,01 per barel.
Baca Juga: AC Milan Raih Penjualan Pemain Terbanyak DI Italia 2026, Unggul Jauh Dari Juventus Sepanjang perdagangan, harga Brent dan WTI bergerak fluktuatif. Kedua kontrak sempat naik hingga sekitar US$ 2 per barel, tetapi juga sempat turun sekitar US$ 1 per barel. Level tertinggi kedua acuan tersebut merupakan yang tertinggi sejak 24 Juli 2026. Mark Schaefer, Direktur di perusahaan broker Liquidity Energy, mengatakan serangan terbaru menunjukkan eskalasi signifikan setelah sekitar satu bulan situasi yang relatif tenang. “Serangan terbaru menandai eskalasi signifikan setelah sekitar satu bulan relatif tenang, dengan AS menargetkan radar dan kemampuan peletakan ranjau Iran, sementara Iran melakukan serangan balasan terhadap posisi AS di seluruh kawasan,” tulis Schaefer dalam catatannya. Menurut dia, perhatian utama pasar minyak kini tertuju pada potensi gangguan terhadap arus fisik minyak di kawasan tersebut. “Kekhawatiran utama bagi pasar minyak adalah apakah pertempuran yang kembali terjadi akan menyebabkan penurunan lebih lanjut dalam arus fisik melalui kawasan tersebut,” ujarnya.
Baca Juga: Berani Tolak Titah Trump Ganti Nama Danau Ontario, Aplikasi Peta Ini Langsung Viral Selat Hormuz Jadi Sorotan Perang AS-Iran kini memasuki bulan ketujuh. Serangan terbaru menjadi pertukaran serangan terbesar antara Teheran dan Washington sejak Juli. Pasukan AS menyerang wilayah pesisir selatan Iran, sementara Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di berbagai wilayah. Konflik tersebut telah berdampak langsung terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum konflik membawa sekitar seperlima konsumsi minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Iran secara efektif telah membatasi lalu lintas pelayaran melalui selat tersebut. Korps Garda Revolusi Islam Iran bahkan menyatakan serangan AS terbaru berpotensi semakin membatasi lalu lintas di Selat Hormuz. Data awal Kpler menunjukkan hanya empat kapal komoditas yang melintas Selat Hormuz pada Rabu. Jumlah tersebut berada di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 13 kapal. Korps Garda Revolusi Iran juga menyatakan dua kapal tanker minyak terkena ranjau laut dan mengalami kerusakan ketika mencoba melintasi selat tersebut. Iran juga menambahkan sejumlah kapal ke dalam daftar kapal yang dianggap tidak patuh. Kapal-kapal tersebut dapat dikenai denda, penyitaan atau penahanan apabila mencoba melintasi Selat Hormuz. Namun, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan sebanyak 17 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz pada Senin. Menurutnya, volume tersebut merupakan yang terbesar sejak perang Iran dimulai.
Baca Juga: Usai Dijual, Pizzat Hut Ditinggalkan Sang CEO Pasokan Alternatif Redam Kenaikan Harga Meski konflik meningkatkan risiko gangguan pasokan, pasar minyak masih mendapatkan dukungan dari alternatif pasokan lainnya. Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial, mengatakan peningkatan konflik memang berpotensi memperlambat lalu lintas melalui Selat Hormuz dalam jangka pendek. Namun, pasar mulai memperhitungkan bahwa pasokan minyak dari jalur alternatif masih dapat masuk ke pasar. “Meski peningkatan konflik akan memperlambat transit melalui Selat Hormuz dalam jangka pendek, pasar telah menyerap fakta bahwa pasokan minyak dari jalur alternatif masih dapat mencapai pasar pada akhirnya,” kata Kissler. Irak juga meningkatkan ekspor minyak pada Agustus. Pengiriman minyak Irak diperkirakan kembali meningkat pada September seiring margin keuntungan yang besar dan persetujuan Iran bagi kapal tanker Irak untuk melintasi Selat Hormuz mendorong minat pembeli. Di sisi lain, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) diperkirakan mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober dalam pertemuan pada Minggu mendatang. Tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan OPEC+ kemungkinan tidak mengubah kebijakan produksinya. Kelompok produsen minyak tersebut saat ini menyelesaikan pengurangan salah satu lapisan pemangkasan produksi dan mulai mengalihkan perhatian pada negosiasi kuota produksi untuk 2027.
Baca Juga: Bank Inggris Makin Banyak Jaminkan Aset Berisiko Tinggi ke BoE, Ini Isinya Stok Minyak AS Turun Dari Amerika Serikat, faktor lain turut memberikan dukungan terhadap harga minyak.
Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 4,5 juta barel pada pekan lalu. Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan stok minyak AS hanya turun 1,1 juta barel. Sementara itu, Rusia melancarkan serangan besar menggunakan rudal dan drone terhadap infrastruktur energi di wilayah selatan Odesa, Ukraina, pada Rabu dini hari. Operator sistem transmisi Ukraina Ukrenergo mengatakan serangan tersebut menyasar infrastruktur energi di kawasan tersebut. Perkembangan konflik geopolitik dan kondisi pasokan global selanjutnya masih menjadi faktor utama yang akan menentukan arah harga minyak dalam perdagangan berikutnya.