Harga Minyak Dunia Jatuh Hampir 3% Kamis (11/6), Trump Batalkan Serangan ke Iran



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Kamis (11/6/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran.

Keputusan tersebut meningkatkan harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan damai yang dapat mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan.

Baca Juga: Harga Emas Naik 2% dan Perak Melonjak 3%, Trump Batalkan Serangan ke Iran


Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$ 2,72 atau 2,9% dan ditutup di level US$ 90,38 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 2,32 atau 2,6% ke posisi US$ 87,71 per barel.

Sebelumnya, pasar sempat diliputi kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik setelah Trump mengancam akan menyerang Iran.

Namun dalam unggahan di media sosial, Trump menyatakan telah membatalkan rencana tersebut karena pembicaraan damai telah mencapai tingkat tertinggi di jajaran kepemimpinan Iran dan mendapat dukungan dari koalisi negara-negara kawasan.

Meski demikian, Trump tidak mengungkapkan rincian poin-poin kesepakatan yang disebut telah memperoleh persetujuan dari koalisi tersebut.

Baca Juga: Piala Dunia Jadi Ajang Duel Nike vs Adidas, Siapa Lebih Unggul?

Di sisi lain, kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan bahwa Teheran belum menyetujui teks perjanjian apa pun.

Kondisi ini membuat pasar tetap berhati-hati mengingat Trump sebelumnya juga beberapa kali menyatakan kesepakatan damai sudah dekat, namun kemudian kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran.

Sebelum mengumumkan pembatalan serangan, Trump bahkan sempat menyatakan akan menghantam Iran dengan sangat keras.

Kendati demikian, sejumlah sumber Iran dan pejabat Barat menyebutkan pembicaraan tidak langsung mengenai kesepakatan damai sementara memang semakin intensif dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga: Mata Uang Tertekan, Bank Sentral Asia Kompak Perketat Pengawasan Spekulasi Valas

Selat Hormuz Masih Jadi Perhatian

Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi perkembangan situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Pada Rabu (10/6), Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk kapal tanker minyak maupun kapal komersial. Teheran memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintas berisiko menjadi sasaran serangan.

Langkah tersebut merupakan respons atas serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai sejak akhir Februari lalu. Penutupan jalur tersebut sebelumnya sempat memicu lonjakan harga minyak global.

Namun, militer AS menyatakan kapal-kapal komersial masih terus melintas masuk dan keluar Selat Hormuz.

Washington juga membantah laporan bahwa kapal perang AS menjadi sasaran serangan di kawasan tersebut.

Meski demikian, data LSEG dan Kpler menunjukkan setidaknya tiga kapal tanker LNG berhasil keluar dari Selat Hormuz dengan mematikan sistem pelacak (transponder) dan bergerak menuju Asia.

Sementara itu, India melaporkan adanya insiden yang melibatkan sebuah kapal di dekat Pelabuhan Shinas, Oman, pada Kamis.

Meski demikian, perusahaan pengilangan minyak India menyatakan pasokan minyak mentah mereka dipastikan aman setidaknya hingga Agustus mendatang.

Baca Juga: Iran–AS Makin Dekat ke Kesepakatan Awal, Ini Isi Negosiasinya

Persediaan Minyak AS Menyusut

Dari sisi fundamental, pasar juga mendapat dukungan dari penurunan stok minyak mentah AS.

Data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan, persediaan minyak mentah AS turun 7,2 juta barel menjadi 426,5 juta barel pada pekan yang berakhir 5 Juni.

Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan ekspektasi analis dalam survei Reuters yang memperkirakan penurunan sekitar 4 juta barel.

Meski data stok yang lebih ketat biasanya mendukung harga minyak, sentimen pasar pada Kamis lebih didominasi oleh harapan meredanya konflik Timur Tengah sehingga mendorong aksi ambil untung setelah reli tajam beberapa sesi sebelumnya.