Harga Minyak Dunia Makin Panas Jumat (4/9), Brent Naik 7,1% dan WTI Melonjak 9,8%



KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah menguat pada perdagangan Jumat (4/9/2026) dan berada di jalur kenaikan mingguan terbesar sejak pertengahan Juli.

Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, Jumat (4/9/2026), harga minyak Brent naik 15 sen atau 0,2% menjadi US$95,67 per barel pada pukul 01.00 GMT.


Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 26 sen atau 0,3% menjadi US$91,56 per barel.

Dalam sepekan, harga Brent telah menguat sekitar 7,1%, sedangkan WTI melonjak 9,8%. Keduanya berada di jalur kenaikan mingguan terbesar sejak pekan yang berakhir 20 Juli.

Baca Juga: Belanja Rumah Tangga Jepang Anjlok 3,6% pada Juli 2026, Terburuk dalam 2,5 Tahun

Ketegangan AS-Iran Jadi Sentimen Utama

Kenaikan harga minyak terjadi setelah serangkaian serangan AS pada pekan ini yang menewaskan dan melukai puluhan orang, termasuk warga sipil Iran. Konflik tersebut menjadi salah satu bentrokan paling sengit antara kedua negara sejak Juli.

Perang yang dimulai dengan serangan AS dan Israel pada akhir Februari kini telah memasuki bulan ketujuh.

Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran pasar bahwa konflik dapat mengganggu infrastruktur energi serta jalur perdagangan minyak di kawasan.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz kembali memperingatkan bahwa Israel akan "melumpuhkan" infrastruktur militer dan sipil Iran, termasuk fasilitas energi.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pada Kamis bahwa Washington tidak berencana melakukan pembicaraan dengan Iran kecuali Teheran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia. Setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi memperketat pasokan dan mendorong harga minyak lebih tinggi.

Baca Juga: Inflasi Filipina Melandai Jadi 6,1% pada Agustus 2026

Rusia Beri Sinyal Positif Soal Perang Ukraina

Meski demikian, kenaikan harga minyak tertahan oleh perkembangan positif terkait perang Rusia-Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan masih terdapat peluang untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang di Ukraina.

Putin juga menyebut Amerika Serikat dan China siap mendukung penyelesaian damai.

Perkembangan tersebut berpotensi mengurangi sebagian risiko geopolitik di pasar energi global.

Di sisi lain, Iran memperluas daftar kapal yang dianggap tidak mematuhi aturan dan dapat dikenai denda, penyitaan atau penahanan jika mencoba melintasi Selat Hormuz.

Kapal-kapal Irak menjadi salah satu dari sedikit kapal yang telah mendapatkan izin dari Teheran untuk melintas di jalur tersebut.

Baca Juga: Harga Emas Stabil di US$4.475 Jumat (4/9), Berpeluang Cetak Kenaikan Mingguan

Ekspor Minyak Irak Meningkat

Sementara itu, ekspor minyak Irak meningkat tajam pada Agustus. Dua pejabat energi Irak mengatakan ekspor minyak negara tersebut naik menjadi sekitar 2,34 juta barel per hari (bph) pada Agustus, dari sekitar 1,35 juta bph pada Juli.

Ekspor pada September juga diperkirakan kembali meningkat. Diskon harga yang besar serta persetujuan Iran terhadap kapal tanker Irak menjadi faktor yang mendorong minat pembeli.

Peningkatan ekspor Irak tersebut dapat membantu menambah pasokan minyak global dan menjadi salah satu faktor yang menahan laju kenaikan harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga: AS Selidiki Serangan Pernikahan di Iran, Munisi Amerika Diduga Jadi Penyebab