Harga Minyak Dunia Makin Panas Selasa (7/4): Brent ke US$111,16 dan WTI ke US$116



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia menguat pada Selasa (7/4) menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur vital.

Melansir Reuters, harga minyak Brent naik US$1,39 atau 1,27% menjadi US$111,16 per barel, sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) melonjak US$3,58 atau 3,18% ke level US$116 per barel, mendekati level tertinggi dalam empat pekan.

Baca Juga: Iran Serang Kompleks Petrokimia Jubail Arab Saudi, IRGC Klaim Tanggung Jawab


Dalam kondisi normal, WTI biasanya diperdagangkan di bawah Brent. Namun kondisi tersebut kini berbalik, mencerminkan tingginya permintaan pasokan jangka pendek di tengah ketatnya suplai global.

“Perubahan ini mencerminkan bagaimana pasar sangat menghargai ketersediaan pasokan dalam waktu dekat,” kata analis Saxo Bank, Ole Hansen.

Trump memberikan batas waktu hingga pukul 20.00 waktu Washington bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak global.

Sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup jalur tersebut.

Baca Juga: Perusahaan Investasi Bill Ackman Usulkan Merger US$64 Miliar dengan Universal Music

Jika tidak dipatuhi, Trump mengancam akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik di Iran, yang berpotensi memicu eskalasi besar dalam konflik.

Sementara itu, serangan terhadap Iran dilaporkan meningkat pada Selasa, menargetkan jembatan, bandara, fasilitas petrokimia, dan jaringan listrik, menurut media Iran.

Iran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan melalui mediator Pakistan, dan menegaskan bahwa perang harus diakhiri secara permanen sebelum pembicaraan lebih lanjut dilakukan.

Gangguan ekspor dari produsen minyak di kawasan Teluk telah mendorong harga minyak melonjak tajam.

Kondisi ini justru menjadi keuntungan bagi negara yang masih bisa mengekspor, seperti Iran, Oman, dan Arab Saudi, sementara negara lain mengalami kerugian miliaran dolar.

Baca Juga: Trump Ancam “Peradaban Akan Musnah Malam Ini” Jika Iran Tak Capai Kesepakatan

Dewan Keamanan PBB dijadwalkan melakukan pemungutan suara terkait resolusi untuk melindungi pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Namun, resolusi tersebut dilaporkan telah dilunakkan setelah mendapat penolakan dari China terhadap penggunaan kekuatan militer.

Selain itu, premi harga minyak spot WTI melonjak ke rekor tertinggi karena kilang di Asia dan Eropa berlomba mencari pasokan pengganti dari Timur Tengah.

Perusahaan minyak negara Saudi Aramco juga menaikkan harga jual resmi minyak Arab Light ke Asia untuk pengiriman Mei, dengan premi mencapai US$19,50 per barel di atas acuan Oman/Dubai, mencetak rekor tertinggi.

Baca Juga: Malaysia Ambil Langkah Antisipasi Krisis Energi Akibat Perang Iran, Apa Saja?

Di sisi lain, Kementerian Energi Kazakhstan menyatakan ekspor minyak melalui Laut Hitam tetap stabil, sehari setelah Rusia melaporkan serangan drone Ukraina terhadap terminal pipa utama yang menangani sekitar 1,5% pasokan minyak global.

Sementara itu, kelompok produsen minyak OPEC+ sepakat meningkatkan kuota produksi Mei sebesar 206.000 barel per hari, meski kenaikan ini dinilai terbatas karena beberapa anggota tidak dapat meningkatkan produksi akibat penutupan Selat Hormuz.