Harga Minyak Dunia Meledak 4,5% Tembus US$109, Ini Biang Keroknya



KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 4% pada Senin (14/9/2026), mencapai level tertinggi dalam 16 pekan.

Kenaikan harga minyak dipicu serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Timur Tengah yang kembali memperbesar kekhawatiran gangguan pasokan global.

Baca Juga: Alarm Pasar Berbunyi! Yield US Treasury Tembus Level 5%


Melansir Reuters, harga minyak Brent naik US$ 4,68 atau 4,5% menjadi US$ 109,29 per barel pada pukul 10.15 waktu setempat.

Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik US$ 4,21 atau 4,2% menjadi US$ 104,26 per barel.

Dengan kenaikan tersebut, kedua acuan harga minyak berada di jalur untuk mencatat level penutupan tertinggi sejak 19 Mei. Brent dan WTI juga telah berada di wilayah teknikal overbought selama lebih dari sepekan.

Tekanan terhadap pasokan minyak kembali meningkat setelah negara-negara Arab di kawasan Teluk membatalkan pertemuan dengan Iran yang sedianya digelar pada Senin.

Di saat yang sama, kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan baru ke Arab Saudi.

Houthi mengklaim telah menembakkan puluhan rudal dan drone ke pangkalan militer Saudi di Khamis Mushait, dekat perbatasan.

Baca Juga: Kredit Baru China Bangkit pada Agustus 2026, tetapi Jauh di Bawah Ekspektasi

Serangan tersebut disebut mengenai hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu dan depot amunisi.

Sebelumnya, serangan pada Jumat yang oleh Riyadh disebut dilakukan kelompok yang didukung Iran di Irak telah melumpuhkan jaringan pipa minyak Arab Saudi yang membentang dari timur ke barat.

Pipa tersebut menjadi jalur alternatif bagi Arab Saudi untuk mengirim minyak ke Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz.

Gangguan pada jalur tersebut berpotensi mempengaruhi hingga 4% pasokan minyak global.

Risiko pasokan semakin besar mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelumnya melewati Selat Hormuz.

Data awal pelacakan kapal menunjukkan jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintas di Selat Hormuz turun menjadi hanya satu digit per hari pada akhir pekan. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 14 kapal per hari.

Baca Juga: China Perketat Wilayah Udara Beijing Usai Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi

Stok minyak Saudi jadi penyangga

Dengan pipa yang masih tidak beroperasi, pelabuhan Yanbu di Laut Merah harus mengandalkan persediaan minyak yang tersimpan.

Persediaan tersebut diperkirakan hanya cukup untuk menopang ekspor selama lima hingga tujuh hari.

Analis pasar minyak Rystad Janiv Shah mengatakan, reaksi harga yang relatif masih terkendali menunjukkan pasar memperkirakan persediaan Arab Saudi masih mampu menahan dampak gangguan pasokan dalam jangka pendek.

Namun, kondisi dapat berubah cepat apabila gangguan berlangsung lebih lama dari kapasitas persediaan tersebut.

"Jika gangguan berlangsung melewati penyangga persediaan lima hingga tujuh hari, kondisi itu dapat berubah dengan cepat," kata Shah.

Di sisi lain, kelompok Houthi juga memperketat kendali atas Selat Bab el-Mandeb di bagian selatan Laut Merah. Houthi yang bersekutu dengan Iran mencapai Pulau Perim pada Jumat.

Iran juga merilis daftar 77 kapal yang disebut telah melanggar protokol operasional Teheran di Selat Hormuz.

Analis PVM John Evans mengatakan pasar minyak kini menghadapi kombinasi berbagai risiko, mulai dari konflik di Timur Tengah hingga gangguan kapasitas kilang dan penurunan persediaan minyak.

"Tanpa menghentikan kedua perang yang mempengaruhi harga minyak dan menyelesaikan masalah kapasitas kilang global, pasar bertanya-tanya di mana perlindungan dari Brent US$ 120 bisa ditemukan," ujar Evans.

Baca Juga: Miliarder Afrika Aliko Dangote IPO Kilang Minyak, Target Dana US$2,1 Miliar

Harga diesel ikut melonjak

Lonjakan harga minyak juga merembet ke pasar produk olahan. Harga kontrak berjangka diesel AS diperdagangkan di sekitar US$ 5,18 per galon pada Senin.

Harga tersebut menempatkan kontrak diesel di jalur untuk melampaui rekor US$ 5,14 per galon yang tercatat pada April 2022.

Kenaikan harga diesel juga mendorong heating oil crack spread, indikator margin keuntungan kilang, ke rekor tertinggi sekitar US$ 114 per barel berdasarkan data LSEG.

Presiden AS Donald Trump pada Minggu (13/9) bahkan meminta Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menghentikan serangan terhadap infrastruktur diesel Rusia.

Menurut Trump, serangan tersebut menyebabkan kelangkaan bahan bakar diesel yang berdampak terhadap dunia.

Ukraina sebelumnya menyatakan serangan terhadap kilang minyak Rusia dilakukan untuk meningkatkan biaya yang harus ditanggung Moskow dalam melanjutkan invasi ke Ukraina.

Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga dunia setelah AS dan Arab Saudi pada 2025, berdasarkan data energi AS. Rusia juga merupakan anggota kelompok negara penghasil minyak OPEC+.

Baca Juga: BYD Gaspol di Eropa, Produksi Truk Listrik Berat Mulai Tahun Depan