Harga Minyak Dunia Melesat, Pemerintah Dorong Percepatan B50 dan E20



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak dunia mendorong pemerintah menyiapkan berbagai langkah efisiensi energi, termasuk mempercepat penerapan bahan bakar nabati melalui program B50 dan E20.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah tengah mengkaji berbagai kebijakan untuk merespons kenaikan harga minyak global yang telah menembus level US$ 100 per barel.

Menurutnya, sejumlah negara seperti Filipina dan Myanmar mempertimbangkan kebijakan work from home (WFH) atau pengurangan hari kerja untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Namun, pemerintah Indonesia masih mengkaji langkah yang paling sesuai dengan kondisi domestik.


Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) Tingkatkan Kapasitas Pabrik MTBE dan Butene-1 hingga 25%

“Kita lagi melakukan exercise. Apa yang dilakukan oleh negara lain itu kan tergantung dari kondisi masing-masing negara,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Senin (9/3/2026).

Bahlil menerangkan, pemerintah akan menempuh langkah efisiensi energi untuk menjaga stabilitas keuangan negara sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi domestik.

Salah satu opsi yang disiapkan adalah mempercepat implementasi biodiesel dari B40 menjadi B50. Selain itu, pemerintah juga akan mempercepat penerapan campuran bioetanol pada bensin melalui program E20.

Baca Juga: Harga Minyak Melambung, Pemerintah Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Lebaran

“Karena kalau harga minyak fosil bisa melampaui 100 US dolar per barel, maka akan lebih murah jika kita melakukan blending,” kata Bahlil.

Menurutnya, peningkatan bauran biofuel tidak hanya menekan ketergantungan pada minyak impor, tetapi juga memberikan manfaat dari sisi lingkungan karena emisinya lebih rendah.

Di tengah lonjakan harga minyak global tersebut, Bahlil memastikan harga BBM bersubsidi di dalam negeri tidak akan mengalami kenaikan hingga periode Lebaran tahun ini.

“Sampai dengan hari raya ini insyaallah tidak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi.” ujarnya.

Bahlil menjelaskan, kenaikan harga minyak dunia dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Meski demikian, ia memastikan kondisi pasokan energi nasional tetap aman.

Menurutnya, persoalan utama saat ini bukan pada ketersediaan stok, melainkan tekanan harga global.

“Problem kita sekarang bukan di stok, stok tidak ada masalah, sudah ada semuanya. Kita itu sekarang tinggal di harga,” katanya.

Ia juga memastikan pasokan BBM nasional tetap terjaga meskipun sebagian pengadaan dilakukan melalui pasar spot.

Di sisi lain, pemerintah membuka peluang koordinasi lintas kementerian untuk merespons lonjakan harga minyak yang telah melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Sebagaimana diketahui, asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 dipatok sebesar US$ 70 per barel.

Baca Juga: Outlook Fitch Negatif, HKI Desak Percepatan Realisasi Investasi

Sementara itu, harga minyak global terus melesat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak tercatat melonjak sekitar 25% dan mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022.

Per Senin (9/3) pukul 11.30 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 tercatat mencapai US$ 119,50 per barel. Adapun minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 berada di level US$ 119,48 per barel.

Lonjakan tersebut membuat harga minyak dunia jauh melampaui asumsi ICP dalam APBN 2026. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan terhadap anggaran subsidi energi pemerintah apabila tren harga tinggi berlanjut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News