KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah memastikan bahwa lonjakan harga minyak mentah dunia tidak mengganggu kesiapan dana subsidi dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang kini menjadi BPDP. Ketahanan finansial tersebut dinilai tetap solid untuk menopang implementasi program mandatori biodiesel 50% (B50) di tengah gejolak geopolitik global yang masih memanas saat ini. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) tidak akan membebankan alokasi dana bantuan operasional tersebut.
Baca Juga: Syngenta Dorong Produktivitas Padi Sergai Lewat Teknologi Perlindungan Tanaman "Menyangkut dengan subsidi dari BPDPKS dengan harga minyak yang di atas rata-rata US$ 90 per barrel ICP itu kita tidak ada persoalan di BPDPKS termasuk dengan B50. Nah, doakan saja mudah-mudahan ke depan keseimbangan akan terus terjadi," ujarnya di Istana Negara, Jakarta, Selasa (28/7/2026). Bahlil tak menampik, penerapan kebijakan B50 secara otomatis bakal mengerek porsi penyerapan minyak kelapa sawit mentah atau crude
palm oil (CPO) di dalam negeri. Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah telah menyiapkan strategi pasokan untuk menjamin ketersediaan bahan baku CPO tetap aman terkendali. "Termasuk di dalamnya adalah dengan kita menaikkan menjadi program B50 itu kan ada penambahan CPO. Dan itu semua bisa teratasi dengan tetap menjaga kebutuhan domestik selebihnya baru kita melakukan ekspor. Jadi keseimbangan ekspor pun dijaga," pungkasnya. Diberitakan sebelumnya, Direktur Utama BPDP, Eddy menuturkan, alokasi anggaran insentif untuk kebutuhan Public Service Obligation (PSO) untuk program B40/B50 pada tahun berjalan ini telah diproyeksikan secara terukur. Dia menyebutkan, lebih dari separuh dari total pagu anggaran yang disiapkan untuk sepanjang tahun 2026 tersebut kini telah berhasil disalurkan. "Untuk tahun 2026, proyeksi insentif B40/B50 PSO (Public Service Obligation) kurang lebih sebesar Rp 32 triliun, sampai dengan bulan Juni sudah disalurkan sekitar Rp 17 triliun," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (27/7/2026). Di sisi pendapatan, lanjut Eddy, kinerja penerimaan pundi-pundi dana kelolaan BPDP justru menunjukkan tren kenaikan yang memuaskan.
Baca Juga: Spindo (ISSP) Raup Laba Bersih Rp 240,5 Miliar pada Semester I 2026 Dia bilang, realisasi penerimaan Pungutan Ekspor (PE) komoditas kelapa sawit beserta produk turunannya pada semester pertama tahun 2026 ini tercatat mengalami pertumbuhan jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya. "PE sampai semester 1 2026 lebih tinggi dari PE periode yang sama tahun 2025. Penerimaan PE semester 1 2026 sekitar Rp 21 triliun," tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News