KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (8/7/2026) setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara baru terhadap Iran dan kembali memberlakukan sanksi atas penjualan minyak mentah negara tersebut. Langkah ini memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang baru tercapai mulai runtuh dan berpotensi mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah. Kontrak minyak mentah Brent naik US$ 1,38 atau 1,9% menjadi US$ 75,54 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 1,37 atau 1,9% ke level US$ 71,81 per barel.
Kenaikan ini melanjutkan reli sehari sebelumnya, ketika kedua acuan harga minyak melonjak sekitar 3% setelah AS mencabut lisensi umum yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak mentah Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Pantau Kelanjutan Perdamaian AS-Iran Militer AS menyatakan serangan udara dilakukan sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia karena menjadi rute utama pengiriman minyak dari Timur Tengah ke pasar global. Kepala Riset MST Marquee, Saul Kavonic, menilai eskalasi terbaru kembali mengingatkan pasar bahwa keamanan pelayaran di Selat Hormuz masih sangat rapuh. "Situasi ini menunjukkan betapa rentannya jalur pelayaran di Selat Hormuz dan dapat memaksa pelaku pasar menutup posisi jual mereka, sehingga mendukung kenaikan harga minyak," ujarnya.
Baca Juga: Intip Rekomendasi Emiten Petrokimia: Harga Minyak Turun Hingga Insentif Impor LPG Menurut Kavonic, apabila ketegangan terus berlanjut dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap berada di bawah 50% dari kondisi normal sebelum perang, maka gangguan pasokan berpotensi mendorong harga minyak bergerak lebih tinggi. Sebelumnya, setelah AS dan Iran menandatangani kesepakatan gencatan senjata pada bulan lalu, harga minyak sempat turun kembali ke level sebelum konflik. Saat itu, pelaku pasar memperkirakan pasokan minyak dari Timur Tengah akan kembali membanjiri pasar sehingga banyak investor memasang posisi yang bertaruh pada penurunan harga minyak. Namun, serangkaian serangan terhadap kapal-kapal niaga kembali mengubah sentimen pasar. Qatar menuding Iran berada di balik serangan terhadap sejumlah kapal, termasuk sebuah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) milik Qatar yang dilaporkan terkena serangan drone hingga memicu kebakaran di ruang mesin. Iran sendiri belum mengakui bertanggung jawab atas insiden tersebut. Di saat yang sama, sebuah kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi yang diduga merupakan supertanker Wedyan juga dilaporkan mengalami kerusakan di perairan dekat Oman. Hingga kini penyebab insiden tersebut masih belum diketahui.
Baca Juga: Terkoreksi 5,46% dalam Sepekan, Harga Minyak Mentah di Level US$ 69 Per Barel Serangan-serangan tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Sebelum perang pecah pada Februari lalu, sekitar seperlima pasokan energi dunia diangkut melalui jalur strategis tersebut. Situasi semakin rumit setelah Iran mengarahkan kapal-kapal yang melintas untuk menggunakan jalur yang lebih dekat ke wilayah pantainya, bukan rute yang berada di dekat Oman.
Di sisi lain, AS menegaskan Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi seluruh pelayaran internasional seperti sebelum konflik berlangsung. Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, data persediaan minyak juga memberikan dukungan tambahan bagi harga. Berdasarkan data American Petroleum Institute (API), stok minyak mentah AS kembali turun pada pekan lalu. Sebelumnya, analis yang disurvei Reuters memperkirakan persediaan minyak mentah AS akan berkurang sekitar 2,4 juta barel pada pekan yang berakhir 3 Juli. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News