Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih 1% usai Iran Tolak Kirim Uranium ke Luar Negeri



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (21/5/2026), setelah laporan Reuters menyebut Pemimpin Tertinggi Iran menginstruksikan agar uranium Iran yang diperkaya hingga mendekati tingkat senjata tidak dikirim ke luar negeri.

Kebijakan tersebut dipandang memperkeras posisi Teheran terhadap salah satu tuntutan utama Amerika Serikat dalam pembicaraan damai terkait konflik Iran dan Israel.

Baca Juga: CEO ADNOC Peringatkan Pemulihan Selat Hormuz Bisa Memakan Waktu Dua Tahun


Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$ 1,39 atau 1,3% menjadi US$ 106,41 per barel pada pukul 10.37 GMT.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 1,56 atau 1,6% menjadi US$ 99,82 per barel.

Sebelumnya, kedua kontrak acuan tersebut sempat bergerak melemah sebelum laporan mengenai sikap terbaru Iran dirilis.

Laporan Reuters yang mengutip dua sumber senior Iran menyebut Mojtaba Khamenei menginstruksikan agar stok uranium Iran yang diperkaya tinggi tetap berada di dalam negeri.

Baca Juga: Khamenei Bersikeras Simpan Uranium di Iran, Trump Hadapi Jalan Terjal

Langkah tersebut dinilai dapat mempersulit Presiden AS Donald Trump dalam mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran.

Sehari sebelumnya, harga minyak sempat anjlok sekitar 5,6% setelah Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran telah memasuki tahap akhir.

Pakistan pada Kamis juga meningkatkan upaya diplomatik untuk mempercepat negosiasi damai antara AS dan Iran, sementara Teheran menyatakan masih meninjau respons terbaru dari Washington.

Trump mengatakan AS masih dapat menunggu beberapa hari untuk memperoleh “jawaban yang tepat” dari Iran, namun tetap membuka kemungkinan melanjutkan serangan militer terhadap Teheran.

Baca Juga: Bank Global Ini Pangkas 7.000 Pekerja, AI Jadi Mesin Efisiensi Baru

Analis ING mengatakan, pasar sebelumnya sudah beberapa kali menghadapi situasi serupa yang akhirnya berujung kekecewaan. ING tetap memperkirakan rata-rata harga Brent berada di level US$ 104 per barel pada kuartal ini.

Iran juga memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan dan memperkuat kontrol atas Selat Hormuz yang hingga kini sebagian besar masih tertutup.

Sebelum perang pecah, Selat Hormuz menyalurkan minyak dan gas alam cair setara sekitar 20% konsumsi energi global.

Di sisi lain, aktivitas ekonomi zona euro tercatat mengalami kontraksi terdalam dalam lebih dari dua setengah tahun pada Mei akibat lonjakan biaya hidup yang dipicu perang.

Kondisi itu menekan permintaan jasa di Eropa dan mendorong perusahaan mempercepat pemutusan hubungan kerja.

Pada Rabu, Iran mengumumkan pembentukan otoritas baru bernama Persian Gulf Strait Authority untuk mengelola “zona maritim terkendali” di Selat Hormuz.

Baca Juga: IPO SpaceX Hampir US$2 Triliun, Taruhan Besar Visi Elon Musk

Iran secara efektif menutup selat tersebut sebagai respons atas serangan AS dan Israel yang memicu perang sejak 28 Februari lalu.

Meski sebagian besar pertempuran berhenti sejak gencatan senjata April, Iran masih membatasi lalu lintas di Hormuz, sementara AS memblokade garis pantai Iran.

Gangguan pasokan dari Timur Tengah memaksa banyak negara menguras cadangan minyak komersial dan strategis mereka.

Data U.S. Energy Information Administration menunjukkan, AS menarik hampir 10 juta barel minyak dari cadangan strategisnya pekan lalu, menjadi pelepasan terbesar sepanjang sejarah.

Persediaan minyak mentah AS juga turun lebih besar dari perkiraan pasar.

Baca Juga: UPDATE - Harga Minyak Dunia Turun Kamis (21/5): Brent ke US$104,20 & WTI ke US$97,66

Analis minyak dan gas global senior HSBC Kim Fustier mengatakan, harga minyak sejauh ini masih relatif terkendali meski gangguan di Timur Tengah sangat besar.

Menurut dia, penurunan pembelian dari China, lonjakan ekspor minyak dari kawasan Atlantik terutama AS, serta pelepasan cepat cadangan minyak membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan pasokan jangka pendek.