KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Rabu (29/7/2026) setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat menyusul serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak. Kenaikan harga juga didorong oleh penurunan persediaan minyak mentah AS. Mengutip
Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$3,72 atau 4,4% menjadi US$87,81 per barel pada pukul 10.25 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$3,43 atau 4,3% ke level US$82,69 per barel.
Baca Juga: The Fed Diproyeksi Tahan Suku Bunga, Langkah Kevin Warsh Sulit Ditebak Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, kenaikan harga dipicu oleh kembali meningkatnya aksi militer di Timur Tengah serta sikap Iran yang menegaskan ingin mengendalikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz di tengah masih terbatasnya arus pengiriman minyak melalui jalur tersebut. "Serangan militer terbaru di Timur Tengah dan pernyataan pejabat Iran mengenai keinginan mengendalikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali mengangkat harga minyak," ujar Staunovo. Pada Rabu, AS dan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak. Kedua negara menuding kelompok tersebut bertanggung jawab atas serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah militer AS mengumumkan berhasil menggagalkan serangan rudal mendadak Iran yang menyasar pasukan AS di kawasan tersebut.
Baca Juga: OCBC Percepat Pembukaan Rekening Nasabah Kaya dengan Agentic AI Di sisi lain, Iran menyatakan telah menembaki kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz serta pangkalan militer AS di Yordania. Ketegangan semakin meningkat setelah Teheran menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama Selat Hormuz oleh negara-negara kawasan. Penolakan tersebut meredupkan harapan tercapainya solusi diplomatik untuk mengakhiri kebuntuan yang telah menghambat perdagangan melalui Teluk selama beberapa bulan terakhir. Data pelayaran menunjukkan hanya sedikit kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz sepanjang pekan ini. Sebaliknya, sebanyak lima kapal melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Rabu sebagai jalur alternatif ekspor minyak Arab Saudi menuju Asia, setelah sehari sebelumnya tercatat 39 kapal melintas. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak 19 Juli, sebelum kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi.
Baca Juga: Yield Treasury AS Naik Lagi Rabu (29/7), Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga The Fed Selain itu, sumber regional yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok Houthi juga sedang mempertimbangkan penerapan biaya bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Laut Merah bagian selatan. Kepala Riset Energi DBS Bank Suvro Sarkar memperkirakan, harga minyak Brent akan tetap bergerak sangat fluktuatif di kisaran US$80 hingga US$100 per barel dalam waktu dekat seiring perkembangan konflik di Timur Tengah. "Kami memperkirakan harga Brent akan terus bergejolak di kisaran US$80-US$100 per barel karena konflik di Timur Tengah terus mengalami eskalasi maupun deeskalasi," katanya. Menurut Sarkar, meski Presiden AS Donald Trump sempat mengisyaratkan kembalinya jalur diplomasi, proses negosiasi yang tidak menentu membuat pemulihan arus pelayaran di Selat Hormuz belum dapat dipastikan. "Selama blokade Selat Hormuz belum sepenuhnya dicabut, harga minyak kemungkinan tetap memiliki batas bawah di sekitar US$80 per barel bahkan dalam skenario deeskalasi," ujarnya.
Baca Juga: UPDATE-Harga Emas Menguat Tipis ke US$ 4.036 Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed Dari sisi fundamental, pasar juga mendapat dukungan setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun sekitar 3,3 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli. Pelaku pasar kini menantikan data resmi persediaan minyak dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Selain itu, harga minyak turut ditopang ekspektasi bahwa OPEC+ akan menghentikan sementara rencana kenaikan produksi minyak selama tiga bulan mulai Oktober, setelah organisasi tersebut menyelesaikan pengembalian pasokan yang sebelumnya dipangkas secara sukarela.