Harga Minyak Dunia Melonjak Selasa (31/3), Brent Melewati US$118 Akibat Konflik Iran



KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah Brent menutup bulan Maret dengan kenaikan bulanan terbesar dalam sejarah Selasa (31/3/2026).

Terdorong oleh serangan tanker terbaru di Timur Tengah dan peringatan Menteri Pertahanan AS bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan serangan jika Iran tidak mencapai kesepakatan.

Melansir Reuters, minyak mentah Brent untuk Mei naik US$5,31 atau 4,71% menjadi US$118,09 per barel pada pukul 13.26 GMT.


Baca Juga: Unilever Gabungkan Bisnis Makanan dengan McCormick, Ciptakan Raksasa US$65 Miliar

Data LSEG menunjukkan kontrak Brent bulan depan berada di jalur untuk mencatat kenaikan bulanan tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 63% sejak Juni 1988.

Sementara itu, benchmark AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), naik 54%, lonjakan terbesar sejak Mei 2020.

Kontrak Juni Brent relatif stabil, hanya naik 7 sen menjadi US$107,46 per barel, sementara WTI Mei naik 49 sen, atau 0,48%, menjadi $103,37 per barel.

Kenaikan harga ini didorong oleh eskalasi konflik di Iran yang mengganggu infrastruktur energi di Teluk Persia, mengakibatkan gangguan pasokan minyak dan gas terburuk dalam sejarah.

Setiap kali Presiden AS Donald Trump memberi sinyal kemungkinan de-eskalasi, harga sempat turun, namun kembali naik karena ancaman Iran terhadap kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz, jalur penting pengiriman sekitar sepertiga pasokan minyak dunia.

Baca Juga: Bagaimana Bisnis Makanan Membentuk Unilever Selama Hampir Seabad? Berikut Evolusinya

Trump sebelumnya menyarankan negara lain turun tangan membuka Selat Hormuz, tetapi Eropa menolak hingga konflik mereda.

AS telah mencabut sebagian sanksi minyak Rusia dan menjanjikan pelepasan cadangan minyak bersama negara lain, namun langkah ini hanya menutup sebagian kecil kekurangan pasokan.

Lin Ye, Wakil Presiden Pasar Komoditas dan Minyak di Rystad Energy, mengatakan: "Dengan buffer pasar minyak yang terus berkurang, kerentanan terhadap penutupan panjang Selat Hormuz meningkat, sehingga momentum kenaikan harga minyak kemungkinan akan bertambah kuat."

Volume perdagangan kontrak Brent Mei turun signifikan menjelang kadaluarsa, hanya 15.488 lot, 18 kali lebih rendah dibanding kontrak Juni yang lebih aktif.

Sesi perdagangan Selasa sangat volatil, dengan futures Brent front-month bergerak antara +4,8% hingga -1,3% dari penutupan Senin.

Baca Juga: Menhan Hegseth: AS Konfrontasi Rusia dan China Terkait Iran

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan jika Iran tidak menutup konflik melalui kesepakatan, AS akan meningkatkan intensitas serangan.

Trump juga melalui media sosial Truth Social mendesak negara-negara yang tidak membantu AS dalam serangan koordinasi terhadap Iran untuk membeli minyak Amerika dan "langsung ambil" di Selat Hormuz.

Kenaikan harga energi mulai mempengaruhi popularitas Trump; harga rata-rata bensin di AS melewati $4 per galon untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022.

Sementara itu, Kuwait Petroleum Corp melaporkan bahwa tanker minyak penuh muatan Al Salmi, dengan kapasitas hingga 2 juta barel, menjadi target serangan Iran di pelabuhan Dubai, meningkatkan risiko tumpahan minyak di wilayah tersebut.