Harga Minyak Dunia Menembus Level Tertinggi 10 Bulan pada Selasa (19/9)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak melonjak lebih dari 1% pada hari Selasa (19/9) ke level tertinggi 10 bulan. Lemahnya produksi minyak serpih Amerika Serikat (AS) memperparah kekhawatiran suplai akibat pemangkasan produksi yang diperpanjang oleh Arab Saudi dan Rusia.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$1,13 atau 1,2% menjadi US$95,56 per barel pada pukul 1514 GMT. Harga sempat mencapai level US$95,96 per barel, tertinggi sejak November.

Sedangkan, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,48 atau 1,6% menjadi US$92,96, setelah mencapai US$93,74 per barel, juga tertinggi sejak November.


Harga minyak mentah berada di jalur yang tepat untuk naik selama empat sesi berturut-turut.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Terus Panas, Begini Efeknya Ke Sejumlah Komoditas Lainnya

"Pasar mulai menyadari bahwa ke mana pun Anda melihat, ada kekhawatiran mengenai ketatnya suplai, baik itu minyak mentah, diesel, maupun bensin," ujar analis Price Futures Group, Phil Flynn.

Menguatkan kekhawatiran tersebut, produksi minyak AS dari wilayah penghasil serpih teratas berada di jalur  turun menjadi 9,393 juta barel per hari (bph) di bulan Oktober, terendah sejak Mei 2023. Itu akan menjadi penurunan bulanan ketiga berturut-turut.

Perkiraan tersebut muncul setelah Arab Saudi dan Rusia, sebagai bagian dari kelompok produsen OPEC+, bulan ini memperpanjang pengurangan pasokan gabungan sebesar 1,3 juta barel per hari hingga akhir tahun.

Pemerintah Rusia sedang mempertimbangkan untuk mengenakan bea ekspor untuk semua jenis produk minyak sebesar US$250 per metrik ton - jauh lebih tinggi daripada biaya saat ini - mulai 1 Oktober hingga Juni 2024 untuk mengatasi kekurangan bahan bakar, kata beberapa sumber kepada Reuters pada hari Selasa.

Baca Juga: Harga Minyak Yang Terus Memanas Bisa Memantik Harga Komoditas Lain

Para pelaku pasar menantikan data persediaan minyak AS, yang diperkirakan turun sekitar 2,7 juta barel minggu lalu, menurut para analis yang disurvei oleh Reuters.

Data industri dari American Petroleum Institute akan dirilis pada pukul 1630 EDT (2030 GMT) pada hari Selasa, diikuti oleh data pemerintah AS pada hari Rabu.

Beberapa pihak percaya bahwa kenaikan harga minyak mentah bisa jadi telah mencapai puncaknya.

"Kenaikan minyak ke wilayah overbought membuat pasar rentan terhadap koreksi," tulis analis National Australia Bank, merujuk pada volatilitas setelah pidato pada hari Senin oleh CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, dan menteri energi Arab Saudi.

CEO Aramco menurunkan proyeksi jangka panjang perusahaan untuk permintaan global menjadi 110 juta barel per hari pada tahun 2030 dari perkiraan sebelumnya sebesar 125 juta barel per hari.

Baca Juga: Rekomendasi Instrumen Investasi di Tengah Gejolak Ekonomi Global 2023

Menteri energi Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, membela pemangkasan suplai OPEC+, dengan mengatakan bahwa pasar energi internasional membutuhkan regulasi yang ringan untuk membatasi volatilitas, sambil memperingatkan ketidakpastian atas permintaan China, pertumbuhan Eropa, dan langkah-langkah bank sentral untuk mengatasi inflasi.

Keputusan suku bunga akan diumumkan minggu ini oleh bank-bank sentral Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Swedia, Swiss, dan Norwegia.

Hal ini "tidak akan menenangkan kegelisahan karena bentrokan antara suplai yang sangat berkurang dan prospek ekonomi yang kurang meyakinkan terus berlanjut", kata analis PVM Energy, Tamas Varga. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto