Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Kembali Memanasnya Konflik AS–Iran



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat setelah kembali pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam gencatan senjata yang rapuh, sekaligus mengurangi harapan tercapainya kemajuan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia, sehingga setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar energi global.

Harga minyak Brent tercatat naik 0,67% atau 67 sen menjadi US$100,73 per barel pada pukul 06.50 GMT. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,47% atau 45 sen menjadi US$95,26 per barel. Kedua acuan harga sempat melonjak lebih dari 3% pada awal perdagangan.


Kenaikan ini menghentikan tren penurunan selama tiga hari sebelumnya, yang dipicu kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik, meski isu-isu besar seperti program nuklir Iran masih belum terselesaikan.

Meski demikian, secara mingguan kedua kontrak minyak tersebut masih diperkirakan turun sekitar 6%.

Baca Juga: Trump ke Beijing, Ajak Delegasi CEO Terbatas di Tengah Ketegangan Dagang AS-China

Analis pasar minyak Vandana Hari dari Vanda Insights menilai pasar berada dalam kondisi sangat tidak stabil. Ia mengatakan, pasar saat ini hampir berada di ambang ketidakpastian penuh.

Menurutnya, pembentukan harga minyak tidak lagi sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata konflik maupun situasi fisik di Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak juga dipicu saling tuduh antara kedua pihak. Iran menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata yang telah berlangsung selama satu bulan, sementara AS menyebut serangan balasan dilakukan setelah kapal Angkatan Lautnya ditembaki saat melintasi Selat Hormuz pada Kamis.

Militer Iran mengklaim bahwa Amerika Serikat menyerang kapal tanker minyak Iran, satu kapal lainnya, serta wilayah sipil di sekitar Selat Hormuz dan daratan utama Iran.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan kepada wartawan bahwa gencatan senjata masih tetap berlaku meski ketegangan kembali meningkat.

Vandana Hari juga menilai pasar masih terlalu optimistis terhadap potensi meredanya konflik. Ia menyebut pemerintah AS cenderung melebih-lebihkan prospek perdamaian, sehingga pasar sering bereaksi berlebihan terhadap sentimen tersebut.

Baca Juga: Singapura hingga AS Pantau Warga usai Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar

Ia menambahkan bahwa setiap kenaikan harga minyak biasanya tidak bertahan lama dan cenderung tidak konsisten.

Ketegangan ini terjadi di tengah proses pembahasan proposal perdamaian terbaru dari Washington kepada Iran. Namun, proposal tersebut belum menyentuh isu-isu sensitif seperti tuntutan pembukaan kembali Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi jalur pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia sebelum konflik pecah pada 28 Februari.

Analis IG Tony Sycamore menyebut kondisi pasokan minyak global masih ketat.

Di sisi lain, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas Amerika Serikat (CFTC) dilaporkan tengah menyelidiki transaksi perdagangan minyak senilai sekitar US$7 miliar yang terjadi menjelang pengumuman penting terkait konflik Iran oleh Presiden Trump.

Sebagian besar transaksi tersebut merupakan posisi jual (short position), yakni taruhan bahwa harga minyak akan turun, yang dilakukan di bursa Intercontinental Exchange (ICE) dan Chicago Mercantile Exchange (CME) sebelum pengumuman kebijakan yang kemudian memengaruhi pergerakan harga minyak global.