KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Iran menyusul aksi saling serang antara Washington dan Teheran yang terjadi semalam. Berdasarkan perdagangan hingga pukul 13.21 GMT (20:21 WIB), kontrak berjangka minyak Brent naik 93 sen atau sekitar 1% menjadi US$92,38 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$1,10 atau 1,25% menjadi US$89,30 per barel. Kenaikan harga minyak dipicu oleh unggahan Donald Trump di platform Truth Social yang menegaskan sikap keras pemerintah AS terhadap Iran.
"Mereka telah menghabiskan waktu terlalu lama untuk merundingkan sebuah kesepakatan yang sebenarnya akan sangat menguntungkan bagi mereka. Sekarang mereka harus membayar harganya!" tulis Trump. Setelah pernyataan tersebut dipublikasikan, harga minyak langsung melonjak setelah sebelumnya bergerak relatif stabil sepanjang sesi perdagangan pagi di Eropa. Laporan Fox News juga menyebutkan bahwa Trump hampir mengambil keputusan untuk memerintahkan serangan baru terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran karena menilai Teheran terlalu lama dalam mencapai kesepakatan.
Baca Juga: Produksi Minyak OPEC Anjlok ke Level Terendah dalam Lebih dari Dua Dekade Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan harapan terhadap tercapainya perundingan damai sebelumnya menjadi faktor yang menekan harga minyak dalam beberapa hari terakhir, meskipun arus pelayaran melalui Selat Hormuz masih terbatas. "Harapan akan tercapainya kesepakatan telah membuat harga minyak berada di bawah tekanan dalam beberapa hari terakhir, meskipun arus melalui Selat Hormuz masih terbatas. Jelas bahwa kini pasar menunggu langkah berikutnya yang akan diambil Presiden AS Donald Trump," ujar Staunovo.
Risiko Perang Kembali Menjadi Fokus Pasar
Pelaku pasar kembali mengalihkan perhatian pada meningkatnya risiko perang setelah militer Amerika Serikat menyerang sejumlah target Iran. Serangan tersebut dilakukan setelah Trump pada Selasa berjanji akan membalas jatuhnya helikopter serang Apache milik AS. Analis Senior Pasar Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai eskalasi terbaru kembali memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. "Meskipun upaya diplomatik masih terus berlangsung, pertukaran serangan militer terbaru telah kembali menghadirkan premi risiko geopolitik ke pasar minyak," kata Sachdeva. Di sisi lain, Teheran menyatakan akan melanjutkan permusuhan apabila Israel terus melakukan serangan terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon. Penolakan Israel untuk menghentikan operasi militernya terhadap Hezbollah yang didukung Iran dinilai turut menghambat upaya Trump memperpanjang gencatan senjata yang rapuh dalam konflik yang lebih luas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi sebuah penyelesaian yang lebih permanen.
Selat Hormuz Masih Jadi Sorotan
Analis PVM Tamas Varga mengatakan penurunan persediaan minyak global menjadi faktor yang menopang harga minyak. Namun, pelemahan impor minyak mentah China turut membatasi kenaikan harga. Menurutnya, arus pelayaran yang masih terbatas di Selat Hormuz juga menjadi faktor penahan lonjakan harga. Meskipun sebagian kapal telah kembali melintas, volumenya masih jauh di bawah kondisi sebelum pecahnya perang.
Baca Juga: Akses Mineral Kritis dari China Masih Sulit, Perusahaan AS Cari Pasokan Alternatif JP Morgan bahkan memperkirakan harga minyak Brent rata-rata akan bertahan di kisaran US$100 per barel sepanjang sebagian besar sisa tahun 2026.
Hingga kini, Iran masih memblokir sebagian besar aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang dalam kondisi normal menjadi jalur distribusi sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Di saat yang sama, Washington juga menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Meski demikian, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright pada Selasa menyatakan bahwa lalu lintas kapal di kawasan Teluk dan ekspor minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat, meskipun Washington dan Teheran masih kesulitan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan.
Persediaan Minyak AS Turun Delapan Pekan Berturut-turut
Dari sisi fundamental, harga minyak juga mendapat dukungan dari menurunnya stok minyak mentah Amerika Serikat. Mengutip sumber pasar yang merujuk pada data American Petroleum Institute (API), persediaan minyak mentah AS turun untuk pekan kedelapan secara berturut-turut pada pekan lalu. Selain itu, stok bensin juga dilaporkan mengalami penurunan.