KONTAN.CO.ID - Harga minyak bergerak stabil pada Jumat (15/11), namun diperkirakan mencatatkan penurunan mingguan. Hal ini dipengaruhi oleh melemahnya permintaan dari China dan sinyal bahwa The Fed mungkin akan memperlambat laju pemangkasan suku bunga. Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent tercatat turun 30 sen atau 0,41 persen menjadi 72,26 dolar AS per barel pada pukul 12.38 GMT.
Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 24 sen atau 0,35 persen menjadi 68,46 dolar AS per barel. Selama pekan ini, Brent diperkirakan melemah 2 persen dan WTI turun hampir 3 persen. Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil Kamis (14/11), Setelah Tertekan Penguatan Dolar Penurunan permintaan minyak di China menjadi salah satu penyebab utama. Data dari Biro Statistik Nasional China menunjukkan bahwa kilang minyak memproses 4,6 persen lebih sedikit minyak mentah pada Oktober dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh penutupan pabrik serta pengurangan operasi kilang independen. Selain itu, lemahnya pertumbuhan sektor manufaktur dan permasalahan di sektor properti menambah kekhawatiran investor. "China memberikan pengingat tepat waktu tentang kondisi sebenarnya dari sektor minyak mereka. Pada Oktober, throughput kilang menurun untuk bulan ketujuh berturut-turut," ujar analis PVM, Tamas Varga. Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil Kamis (14/11), Setelah Tertekan Penguatan Dolar Sementara itu, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol menyoroti pelemahan permintaan minyak global yang telah berlangsung cukup lama. "Permintaan minyak global semakin melemah. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh perlambatan ekonomi China dan meningkatnya penetrasi mobil listrik di seluruh dunia," kata Birol dalam forum COP29. IEA memperkirakan pasokan minyak global akan melampaui permintaan lebih dari satu juta barel per hari pada 2025, meskipun pemangkasan produksi oleh OPEC+ tetap diberlakukan. Dalam laporan terbarunya, OPEC juga memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak untuk tahun ini dan 2025, mencerminkan pelemahan di China, India, dan kawasan lainnya. Baca Juga: Eksplorasi Migas Domestik Jadi Katalis Positif Bagi Elnusa (ELSA)