KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Kamis (9/7/2026) setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer baru ke Iran. Eskalasi konflik tersebut meredupkan harapan berakhirnya perang Iran serta membuka kembali kekhawatiran terhadap kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Baca Juga: Pelatih Maroko: Target Kami Juara Piala Dunia, Bukan Sekadar Lolos ke Semifinal Mengutip
Reuters, harga minyak mentah Brent naik 78 sen atau 1% menjadi US$ 78,80 per barel pada pukul 00.54 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 74 sen atau 1,01% menjadi US$ 74,26 per barel. Sebelumnya, kedua kontrak acuan tersebut juga melonjak lebih dari US$ 1 per barel pada perdagangan setelah penutupan pasar Rabu (8/7), menyusul dimulainya serangan terbaru militer AS ke Iran. Sebelum itu, Brent dan WTI telah ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari dua pekan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran mulai Rabu malam.
Baca Juga: Tak Kalah dari Pemain, Wasit Tempuh 12-13 Km dalam Satu Laga Piala Dunia Militer AS menyatakan serangan terbaru tersebut bertujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Operasi militer itu dilakukan hanya beberapa jam setelah Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang dengan Iran telah "berakhir". Analis IG, Tony Sycamore mengatakan, lonjakan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir diperkirakan tidak akan berlanjut karena para pemilik kapal kini akan mengambil sikap yang lebih berhati-hati. Pemerintah AS menyebut gelombang serangan terbaru itu merupakan respons atas serangan terhadap tiga kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz pada Selasa (7/7). Serangan AS dilaporkan mengguncang sejumlah kota di pesisir selatan Iran dan menyebabkan pemadaman listrik di beberapa wilayah.
Di sisi lain, Iran pada Rabu (8/7) menyatakan telah menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan AS sebelumnya terhadap infrastruktur Iran.
Baca Juga: Justin Bieber Gabung BTS, Madonna dan Shakira di Halftime Show Final Piala Dunia Ketegangan yang terus meningkat juga memengaruhi industri pelayaran. Sejumlah perusahaan asuransi risiko perang dilaporkan menyarankan perusahaan pelayaran untuk menunda pelayaran melalui Selat Hormuz, sementara perusahaan asuransi lainnya tengah meninjau kembali ketentuan polis mereka setelah serangan terbaru terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.