Harga Minyak Dunia Naik, Bahlil Wanti-Wanti Subsidi Energi Bengkak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kian memanaskan pasar energi global. Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz menyusul konflik antara Israel–AS dan Iran membuat harga minyak dunia melonjak dan berpotensi menekan anggaran subsidi energi Indonesia.

Di pasar global, harga minyak memang tengah bergejolak. Mengutip Bloomberg, harga minyak acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) berada di atas US$71 per barel setelah melonjak lebih dari 6% pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga minyak Brent ditutup mendekati US$78 per barel.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengingatkan, kenaikan harga minyak mentah dunia pasti berdampak pada postur APBN, terutama dari sisi subsidi energi.


“Dampaknya kepada persoalan harga. Kita tahu bahwa di dalam APBN kita (asumsi) harga Indonesian Crude Price (ICP) itu US$70 per barel. Dan sekarang (harga minyak dunia) sudah naik menjadi US$78 sampai US$80 per barel,” ujar Bahlil dalam Konferensi Pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Baca Juga: Jelang Idulfitri, Pemerintah Pastikan Cadangan BBM Lampaui Batas Minimum 21 Hari

Menurut Bahlil, selisih harga tersebut harus diwaspadai karena berpotensi membuat beban subsidi yang ditanggung negara semakin besar. Pasalnya, ketika harga minyak mentah naik di atas asumsi APBN, biaya pengadaan BBM dan energi lain ikut terdorong.

“Ini yang harus kita hati-hati, ini berdampak pada kenaikan subsidi yang akan ditanggung oleh negara,” katanya.

Meski begitu, Bahlil menilai kenaikan harga ICP tidak sepenuhnya berdampak negatif. Di satu sisi, Indonesia juga memperoleh tambahan penerimaan negara dari produksi minyak dalam negeri.

Ia menyebutkan, produksi minyak Indonesia saat ini berkontribusi sekitar 600.000 barel per hari. Dengan harga yang lebih tinggi, penerimaan negara dari sektor hulu migas berpotensi meningkat.

Baca Juga: ESDM Alihkan Sebagian Impor Minyak Mintah ke AS Imbas Penutupan Selat Hormuz

“Nah, selisih ini yang sedang kita hitung,” jelasnya.

Bahlil menambahkan, Presiden telah mengarahkan agar pemerintah menghitung secara cermat dampak kenaikan harga minyak terhadap subsidi dan penerimaan negara, sembari memastikan pasokan BBM dalam negeri tetap aman.

“Arahan Bapak Presiden kepada kami adalah kita harus sangat berhati-hati untuk menghitung semuanya dengan tetap memastikan ketersediaan BBM dalam negeri untuk memberikan kepastian pelayanan kepada masyarakat kita,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News