Harga Minyak Dunia Naik, Brent Tembus US$ 116 per Barel



KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (27/10/2026), setelah sempat melemah sekitar 1% pada awal sesi.

Pelaku pasar mencermati peluang perundingan antara Iran dan sejumlah negara untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah, meski serangan terbaru kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap Arab Saudi masih membayangi pasokan minyak global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik 40 sen atau 0,4% menjadi US$ 116,24 per barel pada pukul 07.18 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 30 sen atau 0,3% menjadi US$ 102,07 per barel. Kedua acuan minyak tersebut sebelumnya sempat terkoreksi sekitar 1%.


Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menggelar pembicaraan dengan pejabat Iran di Teheran pada Senin (26/10/2026). Pertemuan tersebut bertujuan meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Media pemerintah Iran melaporkan, keempat negara sepakat melanjutkan pembicaraan untuk memperkuat kerja sama dalam menjaga perdamaian dan keamanan.

Baca Juga: Saham AI China Anjlok 40%, Kapitalisasi Pasar Susut US$ 480 Miliar

Pendiri perusahaan riset SS WealthStreet yang berbasis di New Delhi, Sugandha Sachdeva, mengatakan, "Harga tetap tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut."

Ia menambahkan, aksi ambil untung yang terjadi pada awal perdagangan turut dipicu oleh harapan tercapainya terobosan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.

Pekan lalu, harga minyak Brent melonjak menembus US$ 117 per barel, level tertinggi sejak April. Kenaikan tersebut terjadi setelah serangkaian serangan Iran terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz. Harga Brent juga sempat menyentuh US$ 117 per barel pada Senin (26/10/2026).

Namun, peluang tercapainya perdamaian masih rapuh. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran kembali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, salah satu produsen minyak utama dunia.

Data dari sebuah lembaga pemikir yang berbasis di Washington menunjukkan, Oktober menjadi bulan terburuk untuk serangan terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz dan jalur perairan di sekitarnya. Data tersebut mencakup insiden keamanan maritim global yang dipantau lembaga itu sejak 2017.

Konflik yang meluas di Timur Tengah turut menyoroti pentingnya Selat Hormuz bagi pasokan energi dunia. Sebelum konflik pecah pada Februari 2026, jalur pelayaran strategis tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan energi global.

Baca Juga: Pemilu Israel 2026: Netanyahu Hadapi Ancaman Kehilangan Kekuasaan

Pasokan Minyak Global Masih Tertekan

ANZ Research dalam catatannya menyebutkan, pasar minyak masih rentan terhadap tekanan di berbagai aspek, mulai dari pasokan, logistik, persediaan hingga aktivitas pengilangan.

Ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk tercatat turun selama empat pekan berturut-turut. Sementara itu, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz hanya mencapai sekitar 60% dari tingkat normal.

Di sisi lain, persediaan global produk distilat, termasuk solar dan bahan bakar sejenis, berada hampir 5% di bawah rata-rata lima tahun terakhir.