Harga Minyak Dunia Naik di Atas 1% Setelah Serangan Kilang Arab Saudi



KONTAN.CO.ID – LONDON. Harga minyak dunia menguat lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (28/10/2026), menyusul serangan terhadap kilang minyak di Arab Saudi. Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak akibat konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik US$ 1,36 atau 1,2% menjadi US$ 115,24 per barel pada pukul 08.58 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat US$ 1,62 atau 1,6% menjadi US$ 101,52 per barel.

Kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran pada Selasa (27/10/2026) mengklaim telah menyerang kilang minyak terbesar Arab Saudi menggunakan rudal. Serangan tersebut meningkatkan intensitas serangan terhadap Arab Saudi, yang merupakan produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia.


Otoritas Arab Saudi belum segera mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak yang memiliki kapasitas 550.000 barel per hari tersebut.

Ahli strategi komoditas ING mengatakan, pasar minyak saat ini memperhitungkan kemungkinan meningkatnya kembali eskalasi konflik.

Baca Juga: Ekspor Gas dari Indonesia Dipangkas, Singapura Mulai Buru Pasokan LNG Baru

"Harga minyak masih berada pada level tinggi karena pasar menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai langkah Presiden Donald Trump selanjutnya terhadap Iran," kata para ahli strategi ING.

Mereka menambahkan, apabila tidak terjadi serangan baru terhadap Iran hingga pemilihan paruh waktu AS pada 3 November mendatang, kondisi tersebut dapat menjadi faktor yang cukup untuk mulai mengurangi premi risiko di pasar minyak.

Premi risiko merupakan tambahan harga yang diperhitungkan pelaku pasar untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan akibat ketidakpastian geopolitik.

Di sisi lain, persediaan minyak mentah AS tercatat menurun berdasarkan data American Petroleum Institute (API) yang dikutip sejumlah sumber pasar.

Stok minyak mentah AS berkurang 2,03 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober. Angka tersebut berlawanan dengan perkiraan para analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan persediaan meningkat sebesar 15.000 barel.

Data resmi persediaan minyak dari Energy Information Administration (EIA) AS dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator yang dicermati pelaku pasar untuk menilai keseimbangan pasokan dan permintaan minyak.

Baca Juga: Harga Komoditas Naik, Margin Laba Unilever India Tertekan

OPEC+ Diperkirakan Pertahankan Target Produksi

Selain perkembangan konflik Timur Tengah dan data persediaan AS, pelaku pasar juga mencermati pertemuan negara-negara produsen minyak OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu mendatang.

Sejumlah pihak yang mengetahui persoalan tersebut memperkirakan OPEC+ akan mempertahankan target produksi minyak untuk Desember. Keputusan tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap ketersediaan pasokan global.

Produksi minyak sebagian besar dari tujuh anggota inti OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman, masih berada di bawah target produksi masing-masing.

Sementara itu, ekspor minyak mentah Rusia melalui pelabuhan di Laut Baltik dan Laut Hitam diperkirakan berpotensi turun pada November. Sejumlah pedagang menyebut penurunan tersebut dapat terjadi karena kilang domestik Rusia meningkatkan produksi solar setelah tercapainya kesepakatan dengan Washington pada bulan ini.