KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah kembali menguat hampir 1% pada awal perdagangan Rabu (2/9/2026). Kenaikan terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global. Melansir
Reuters, kontrak berjangka Brent naik 87 sen atau 0,92% menjadi US$ 95,52 per barel pada pukul 00.08 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 80 sen atau 0,89% menjadi US$ 91,02 per barel.
Baca Juga: Putin, Xi Jinping dan Donald Trump Berpotensi Bertemu di KTT APEC November Pada perdagangan Selasa (1/9), kedua kontrak minyak tersebut melonjak lebih dari US$ 4 per barel. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar untuk Brent sejak 24 Juli dan WTI sejak 23 Juli. Penguatan harga minyak terjadi setelah AS mengatakan telah melancarkan serangkaian serangan udara terhadap sejumlah target di Iran pada Selasa malam. Iran kemudian merespons serangan tersebut, meningkatkan eskalasi konflik antara kedua negara ke level paling serius dalam beberapa pekan terakhir. Komando Pusat AS atau U.S. Central Command mengatakan serangan tersebut dilakukan setelah adanya upaya serangan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan personel militer AS yang ditempatkan di kawasan tersebut. "Serangan tersebut menyusul serangan yang baru-baru ini dilakukan IRGC terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz dan terhadap personel militer Amerika yang ditempatkan di kawasan tersebut," ujar U.S. Central Command melalui unggahan di X.
Baca Juga: Inflasi Korea Selatan Naik Jadi 3,1% pada Agustus 2026, di Bawah Ekspektasi Selat Hormuz Jadi Perhatian IRGC mengatakan serangan AS akan semakin membatasi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Sebelum konflik berlangsung, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima konsumsi minyak global. Iran kini secara efektif menutup jalur tersebut bagi pelayaran komersial. IRGC juga menyatakan telah menargetkan pangkalan militer AS di Yordania menggunakan rudal balistik. Iran mengklaim serangan tersebut menewaskan sejumlah besar pasukan AS. Media pemerintah Iran juga melaporkan serangan drone berskala besar terhadap pangkalan AS di Bahrain sebagai respons terhadap serangan Amerika. Militer Yordania mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 10 dari 13 rudal balistik yang memasuki wilayah udaranya. Sementara itu, dua pejabat AS mengatakan sejauh ini belum ada laporan mengenai korban dari pihak Amerika akibat serangan tersebut. Kuwait secara terpisah mengatakan militernya tengah merespons aktivitas drone yang dianggap bermusuhan.
Baca Juga: Kanal Panama Proyeksikan Pendapatan US$ 5,56 Miliar pada Tahun Fiskal 2027 Gangguan Pasokan Minyak Meningkat Pertukaran serangan terbaru terjadi setelah eskalasi konflik pada akhir pekan. Ini merupakan bentrokan pertama sejak Juli dan terjadi setelah dua kapal tanker diserang ketika meninggalkan Selat Hormuz pada Senin. Serangan tersebut semakin mengganggu pasokan minyak dan memaksa para pedagang mencari sumber minyak mentah alternatif. Tekanan terhadap pasokan juga muncul dari data persediaan minyak Amerika Serikat.
Di AS, yang merupakan produsen minyak terbesar dunia, persediaan minyak mentah turun 2,6 juta barel dalam pekan yang berakhir 28 Agustus.
Baca Juga: Asap Kebakaran Hutan RI Menyerang Negeri Jiran, Kasus Asma Naik Pesat Sementara itu, stok produk sulingan yang mencakup diesel dan minyak pemanas turun 265.000 barel, berdasarkan data dari American Petroleum Institute (API) yang dikutip sejumlah pelaku pasar. Kombinasi eskalasi konflik, gangguan pelayaran di Selat Hormuz dan penurunan persediaan minyak AS memperkuat kekhawatiran pasar terhadap ketatnya pasokan energi global.