KONTAN.CO.ID - Harga minyak melanjutkan kenaikannya pada Jumat (13/3/2026) dan berada di jalur kenaikan mingguan, karena gangguan pasokan di Teluk akibat perang di Timur Tengah lebih dominan dibanding upaya Amerika Serikat dan Badan Energi Internasional (IEA) untuk menenangkan kekhawatiran pasar. Melansir Reuters, minyak mentah Brent untuk kontrak Mei naik 88 sen atau 0,9% menjadi US$101,34 per barel, menuju kenaikan mingguan sekitar 9%. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak April naik 26 sen atau 0,3% menjadi US$95,99 per barel, diproyeksikan naik 6% selama minggu ini.
Baca Juga: Harga Gandum hingga Kedelai Melonjak Usai Perang Iran, Petani AS Berbondong Jual Stok AS mengeluarkan izin 30 hari bagi negara-negara untuk membeli minyak dan produk minyak Rusia yang tertahan di laut. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, langkah ini bertujuan menstabilkan pasar energi global yang terguncang akibat perang AS-Israel melawan Iran. “Minyak Rusia sebenarnya sudah menuju ke pembeli; ini bukan menambah pasokan baru di pasar,” kata Bjarne Schieldrop, analis komoditas utama di SEB. “Pasar mulai khawatir perang ini akan berlangsung lebih lama. Kekhawatiran besar adalah kerusakan parah pada infrastruktur minyak, yang berarti kehilangan pasokan jangka panjang.” Pengumuman soal minyak Rusia datang sehari setelah Departemen Energi AS menyatakan akan melepas 172 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis untuk menahan lonjakan harga minyak. Rencana ini dilakukan bersama IEA, yang setuju melepas 400 juta barel minyak dari stok strategis global, termasuk kontribusi AS.
Baca Juga: Pengetatan Pemeriksaan Fitosanitari Ganggu Pengiriman Kedelai Brasil ke China Namun, kelegaan sementara akibat pelepasan IEA buyar karena risiko Timur Tengah kembali meningkat. Pemimpin Tertinggi baru Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Iran akan melanjutkan perlawanan dan menutup Selat Hormuz sebagai tekanan terhadap AS dan Israel. Dua kapal tanker di perairan Irak terkena serangan perahu berisi bahan peledak dari Iran, kata pejabat keamanan Irak. Seorang pejabat Irak mengatakan pelabuhan minyak negara itu telah sepenuhnya berhenti beroperasi. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Kamis bahwa AS berpotensi mendapat keuntungan besar dari harga minyak yang terdorong perang dengan Iran, meskipun menghentikan program nuklir Iran tetap menjadi prioritas utama. Kedua patokan minyak ini naik lebih dari 9% pada Kamis, mencapai level tertinggi sejak Agustus 2022. Goldman Sachs memprediksi Brent akan rata-rata di atas US$100 per barel pada Maret dan US$85 pada April, karena harga energi tetap volatil akibat perang Iran, kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah, dan gangguan di Selat Hormuz.
Baca Juga: Presiden Kuba Siap Bicara ke Media di Tengah Krisis Ekonomi dan Tekanan Trump Menurut Emril Jamil, analis senior di LSEG, Brent lebih didukung daripada WTI karena Eropa lebih rentan terhadap isu keamanan energi, sementara AS relatif terlindungi berkat produksi domestiknya. Sumber Reuters menambahkan bahwa Iran menempatkan sekitar selusin ranjau di Selat Hormuz, yang kemungkinan akan mempersulit pembukaan kembali jalur air penting tersebut. Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada Sky News bahwa Angkatan Laut AS, mungkin bersama koalisi internasional, akan mengawal kapal-kapal melalui Selat Hormuz ketika secara militer memungkinkan.