KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (21/10/2026), seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak. Penurunan persediaan minyak mentah dan produk minyak di Amerika Serikat (AS) turut menopang kenaikan harga. Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik US$ 1,61 atau 1,5% menjadi US$ 110,40 per barel pada pukul 06.30 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 1,45 atau 1,5% menjadi US$ 99,27 per barel. Pada sesi perdagangan sebelumnya, harga minyak sempat melemah setelah Presiden Iran membahas upaya mediasi dalam pertemuan dengan Kepala Angkatan Darat Pakistan di Teheran. Meski demikian, harga Brent sempat menyentuh level tertinggi dalam lima bulan sebelum akhirnya terkoreksi.
Kepala Riset Energi DBS, Suvro Sarkar, mengatakan pergerakan harga minyak dalam beberapa sesi terakhir berlangsung sangat fluktuatif. "Harga minyak telah mengalami pergerakan yang cukup liar dalam beberapa sesi terakhir," kata Sarkar.
Baca Juga: Korea Utara Perintahkan Pasukan Perbatasan Bertindak Tegas Jika Terancam Menurut dia, volatilitas tersebut dipengaruhi oleh aksi ambil untung dan harapan tercapainya kesepakatan melalui mediasi Qatar atau Pakistan. Namun, optimisme tersebut berhadapan dengan kenyataan bahwa kesepakatan masih sulit dicapai dalam waktu dekat. Pergerakan harga juga dipengaruhi oleh data persediaan dari American Petroleum Institute (API), yang menunjukkan penurunan stok minyak mentah dan produk minyak di AS masih berlanjut.
Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan
Risiko geopolitik di Timur Tengah semakin menjadi perhatian pelaku pasar energi. Iran dilaporkan menyampaikan kepada Kepala Angkatan Darat Pakistan bahwa Teheran tidak akan melakukan pembicaraan dengan Washington sebelum tuntutannya dipenuhi. Media Iran, Nournews, melaporkan informasi tersebut pada Selasa (20/10/2026). Media itu juga menyebutkan bahwa delegasi Qatar telah tiba di Teheran. Namun, belum ada konfirmasi resmi mengenai laporan tersebut. Selain ketegangan diplomatik, risiko keamanan jalur pelayaran juga meningkat. Perusahaan pelacakan kapal Kpler pada Senin (19/10/2026) menyatakan sedikitnya 18 serangan terhadap kapal tercatat selama dua pekan terakhir. Analis LSEG memperingatkan bahwa Iran menargetkan kapal tanker hingga ke wilayah yang lebih luas, tidak hanya di sekitar Selat Hormuz, tetapi juga mencapai Teluk Oman. Situasi tersebut mengancam aktivitas pemuatan minyak mentah dari kawasan Teluk serta transfer minyak antarkapal yang mendukung distribusi minyak regional. Gangguan keamanan maritim menjadi perhatian penting bagi pasar minyak global karena jalur pelayaran di kawasan tersebut berperan strategis dalam pengiriman energi internasional.
Serangan Houthi Tambah Tekanan Geopolitik
Di Arab Saudi, kelompok Houthi pada Senin mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, serta bandara Riyadh dan Abha. Sementara itu, jumlah korban tewas akibat serangan Houthi terhadap pasukan pemerintah Yaman pada Senin meningkat menjadi 73 orang di tengah intensifikasi pertempuran.
Baca Juga: Samsung dan SK Hynix Tingkatkan Produksi Chip Memori di China, Hadapi Dominasi YMTC Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dalam wawancara televisi yang disiarkan pada Selasa mengatakan bahwa Iran belum menerima tanggapan dari Arab Saudi maupun kelompok Houthi Yaman atas tawaran Teheran untuk membantu memediasi perundingan perdamaian.
Belum adanya kemajuan diplomatik tersebut menambah ketidakpastian mengenai stabilitas kawasan dan potensi dampaknya terhadap pasokan minyak.
Persediaan Minyak AS Turun 4,9 Juta Barel
Dari Amerika Serikat, dua pejabat Departemen Energi pada Selasa mengatakan bahwa pemerintah AS tengah bekerja sama dengan perusahaan pengolahan minyak atau kilang di berbagai negara untuk meningkatkan produksi bahan bakar. Langkah tersebut dilakukan ketika kelangkaan solar atau diesel mendorong kenaikan harga bahan bakar tersebut. Di sisi persediaan, sumber pasar yang mengutip data API menyebutkan stok minyak mentah AS turun 4,9 juta barel pada pekan yang berakhir 16 Oktober 2026.