Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 2% Kamis (5/3), Brent US$83,65 & WTI ke US$77,22



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia naik lebih dari 2% pada Kamis (5/3/2026), memperpanjang reli dalam beberapa hari terakhir seiring meningkatnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran yang mengganggu pasokan energi serta jalur pengiriman minyak.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent crude naik US$2,25 atau 2,8% menjadi US$83,65 per barel pada pukul 12.51 GMT, menandai kenaikan selama lima sesi berturut-turut.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$2,56 atau 3,4% menjadi US$77,22 per barel.


Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Meluas, Serangan Tanker dan Drones Guncang Pasokan Minyak Global

Selisih harga kontrak minyak Brent untuk pengiriman segera dengan kontrak enam bulan ke depan juga mencapai level tertinggi sejak Juli 2022, menandakan pasar minyak global sedang mengalami ketatnya pasokan.

Analis UBS, Giovanni Staunovo mengatakan, serangan terbaru terhadap kapal tanker di kawasan Teluk serta langkah China mengurangi ekspor bahan bakar turut mendorong harga minyak naik.

Menurutnya, pasar produk minyak olahan juga mulai menunjukkan tekanan akibat berkurangnya ekspor energi dari Timur Tengah.

Konflik yang berkepanjangan juga memaksa sejumlah kilang minyak di Timur Tengah, China, dan India menghentikan sebagian operasi pengolahan minyak mentah.

Akibat kekhawatiran terhadap pasokan bahan bakar, kontrak berjangka diesel Eropa melonjak ke level tertinggi sejak Oktober 2022, mencapai sekitar US$1.130.

Baca Juga: BYD Luncurkan Blade Battery Generasi Kedua, Bisa Isi Daya Cepat di Suhu Ekstrem

Serangan Kapal Tanker Berlanjut

Serangan terhadap kapal tanker minyak di kawasan Teluk terus terjadi pada Kamis. Kapal tanker minyak mentah berbendera Bahama Sonangol Namibe dilaporkan mengalami kerusakan pada lambung kapal setelah terjadi ledakan di dekat pelabuhan Khor al Zubair Port di Irak.

Data pelacakan kapal dari Vortexa dan Kpler menunjukkan sekitar 300 kapal tanker minyak masih berada di dalam Selat Hormuz, sementara lalu lintas kapal masuk dan keluar jalur tersebut hampir terhenti sejak perang pecah.

Selain minyak, harga gas juga ikut naik setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan kemungkinan penghentian sisa aliran gas Rusia ke Eropa.

Kekhawatiran pasokan semakin meningkat setelah QatarEnergy menyatakan force majeure pada pengiriman gas alam cair (LNG).

Harga gas acuan Eropa naik sekitar 5% menjadi 51,44 euro per megawatt-hour (MWh), setelah sebelumnya sempat melonjak 8,3% hingga 52,80 euro/MWh dalam sesi perdagangan.

Baca Juga: Staf Asing BP Dievakuasi dari Ladang Minyak Rumaila Irak Setelah Insiden Drone

Risiko Penurunan Produksi

Analis JPMorgan memperkirakan pasokan minyak dari Irak dan Kuwait bisa mulai terganggu dalam beberapa hari jika Selat Hormuz tetap tertutup.

Kondisi tersebut berpotensi memangkas produksi hingga 3,3 juta barel per hari (bph) pada hari kedelapan konflik.

Irak, produsen minyak terbesar kedua di dalam OPEC, dilaporkan telah memangkas produksi sekitar 1,5 juta barel per hari karena keterbatasan fasilitas penyimpanan dan jalur ekspor.

Sementara itu, Qatar sebagai produsen LNG terbesar di kawasan Teluk menyatakan force majeure pada ekspor gasnya.

Sumber Reuters menyebutkan produksi kemungkinan membutuhkan setidaknya satu bulan untuk kembali ke tingkat normal.