Harga Minyak Dunia Naik Rabu (12/8) Pagi, Brent ke US$89,63 dan WTI ke US$83,91



KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah kembali menguat pada Rabu (12/8/2026), didorong meningkatnya keraguan terhadap tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta serangan terhadap dua kapal yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.

Melansir Reuters, pukul 00.53 GMT, harga minyak Brent untuk kontrak berjangka naik 72 sen atau 0,81% menjadi US$89,63 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 71 sen atau 0,85% menjadi US$83,91 per barel.

Baca Juga: Latihan Militer China-Indonesia di Timur Taiwan Picu Ketegangan Baru


Kedua harga acuan tersebut pada perdagangan Selasa (11/8) ditutup menguat lebih dari US$1 per barel. Level tersebut menjadi penutupan tertinggi sejak 31 Juli.

Penguatan harga minyak juga melanjutkan kenaikan setelah Brent dan WTI melonjak sekitar 5% pada Senin (10/8), ketika harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai AS dan Iran mulai memudar.

Serangan Kapal Picu Kekhawatiran Pasokan

Amerika Serikat dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran pada Selasa melaporkan serangan terpisah terhadap pelayaran di kawasan Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.

Baca Juga: Serangan Kapal Kembali Terjadi, Perundingan Perang Iran-AS Kembali Buntu

Kedua jalur tersebut merupakan titik penting bagi perdagangan energi global. Selat Hormuz khususnya menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia ke pasar dunia.

Pejabat keamanan tinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan Selasa bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup selama AS belum menerima persyaratan Iran untuk mengakhiri perang.

Persyaratan tersebut mencakup pembebasan aset Iran yang dibekukan serta penghentian konflik di berbagai wilayah di kawasan Timur Tengah.

Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun menjadi hanya enam kapal pada Senin. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata sekitar 11 kapal dalam 10 hari terakhir.

Sebelum perang berlangsung, lalu lintas harian di jalur tersebut rata-rata mencapai sekitar 125 hingga 140 kapal.

Baca Juga: Investasi Asing Ogah Masuk Ke Negara Tetangga RI Ini, Tanam Modal Anjlok Ke Terendah

Persediaan Minyak AS Melonjak

Di sisi lain, tekanan terhadap harga minyak berpotensi datang dari meningkatnya persediaan minyak mentah Amerika Serikat.

Jajak pendapat Reuters pada Selasa sebelumnya memperkirakan persediaan minyak mentah dan bahan bakar AS turun pada pekan lalu.

Namun, sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute (API) menyebut persediaan minyak mentah AS justru melonjak pada pekan yang berakhir 7 Agustus.

Persediaan minyak mentah disebut meningkat sekitar 9,1 juta barel. Sementara itu, stok bensin turun sekitar 1,5 juta barel dan persediaan distilat berkurang sekitar 596.000 barel dibandingkan pekan sebelumnya.

Kenaikan persediaan minyak mentah tersebut jauh lebih besar dibandingkan perkiraan pasar.

Baca Juga: WNI Tewas dalam Serangan Kapal Dagang di Dekat Yaman, Houthi Diduga Pelaku

Jika nantinya dikonfirmasi oleh laporan resmi Energy Information Administration (EIA), kenaikan stok tersebut berpotensi meredakan kekhawatiran mengenai ketatnya pasokan minyak di pasar global.

"Penambahan persediaan minyak mentah jauh melampaui ekspektasi dan, jika dikonfirmasi laporan EIA, dapat meredakan kekhawatiran pasar mengenai ketatnya pasokan," kata Haitong Futures dalam sebuah catatan.

Laporan resmi EIA, yang merupakan badan statistik Departemen Energi AS, dijadwalkan terbit pada Rabu pukul 10.30 waktu AS atau 14.30 GMT.

Gangguan Pasokan Diperkirakan Berlanjut

Untuk jangka panjang, EIA memperkirakan gangguan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah sekitar 600.000 barel per hari masih akan berlangsung hingga akhir 2027.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun kenaikan persediaan minyak AS dapat memberikan tekanan terhadap harga dalam jangka pendek, risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah tetap menjadi faktor penting yang menopang harga minyak.