Harga Minyak Dunia Naik Rabu (15/7) Pagi, Brent ke US$ 86,19 & WTI ke US$ 80,40



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (15/7/2026) setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas.

Eskalasi terbaru dipicu oleh keputusan Presiden AS Donald Trump memberlakukan kembali blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran serta serangan balasan Teheran terhadap sejumlah target militer AS di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Penjualan Bijih Besi Rio Tinto Melonjak, Harga Diesel Jadi Beban


Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik US$ 1,46 atau 1,72% menjadi US$ 86,19 per barel pada pukul 00.29 GMT.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat US$ 1,11 atau 1,4% menjadi US$ 80,40 per barel.

Kenaikan tersebut melanjutkan reli pada perdagangan sebelumnya, ketika Brent dan WTI sama-sama ditutup naik sekitar 2% ke level tertinggi dalam satu bulan.

Harga minyak terdorong naik setelah gangguan pasokan di Selat Hormuz semakin dalam. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Militer AS pada Rabu dini hari menyatakan telah memulai gelombang baru serangan terhadap Iran untuk terus melemahkan kemampuan Teheran yang digunakan dalam menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Baca Juga: Didukung Goldman Sachs, Attovia Therapeutics Ajukan IPO di Bursa AS

Di sisi lain, Iran menyatakan kembali menutup Selat Hormuz setelah konflik dengan AS kembali memanas pekan lalu, mengakhiri gencatan senjata yang rapuh yang sempat tercapai pada Juni setelah beberapa bulan pertempuran.

Dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan Selasa malam, Presiden Donald Trump juga mengisyaratkan bahwa fasilitas energi Iran dapat menjadi target berikutnya.

"Saya akan menyimpan target energi untuk yang terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang target energi," kata Trump.

Sementara itu, militer Iran pada Rabu dini hari mengumumkan telah meluncurkan serangan drone ke pangkalan militer AS di Azraq, Yordania. Hingga kini Pentagon belum memberikan tanggapan resmi atas klaim tersebut.

Baca Juga: AI Bisa Jadi Berkah atau Bencana bagi Ketimpangan Ekonomi? Ini Kata Gubernur The Fed

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga mengklaim telah menyerang gudang senjata dan fasilitas penyimpanan milik AS di Bahrain dan Kuwait. Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.

Meningkatnya eskalasi dalam beberapa hari terakhir menimbulkan keraguan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara pada bulan lalu dapat mengakhiri perang secara permanen.

Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan, harga minyak masih berpeluang kembali mendekati US$ 100 per barel apabila konflik semakin meluas dan mulai merusak infrastruktur energi di kawasan Teluk.

Baca Juga: Kabar Skuad Argentina Jelang Semifinal: Tak Ada Pemain yang Absen Lawan Inggris

"Jika upaya diplomatik berhasil membuka kembali Selat Hormuz, harga Brent kemungkinan bertahan di kisaran US$ 75 hingga US$ 80 per barel," ujarnya.

Menurut Waterer, untuk saat ini premi risiko geopolitik masih melekat pada harga minyak. Namun, pasar belum sepenuhnya bertaruh pada kenaikan harga yang berkelanjutan karena kedua belah pihak masih memiliki insentif untuk mencari penyelesaian melalui jalur diplomatik.