Harga Minyak Dunia Naik Selasa (20/1) Pagi: Brent ke US$ 64,13 & WTI ke US$ 59,69



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Selasa (20/1/2026), didorong data pertumbuhan ekonomi China yang lebih baik dari perkiraan sehingga meningkatkan optimisme permintaan.

Di saat yang sama, pasar juga mencermati ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kenaikan tarif impor terhadap negara-negara Eropa seiring ambisinya membeli Greenland.

Melansir Reuters, harga minyak Brent naik 19 sen atau 0,3% ke level US$ 64,13 per barel pada pukul 01.00 GMT.


Baca Juga: Emas Spot Bertahan di Level US$ 4.671,5 Selasa (20/1) Pagi, Dekat Rekor Tertinggi

Sementara itu, kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, yang berakhir pada Selasa, menguat 25 sen atau 0,4% dibandingkan penutupan Jumat lalu menjadi US$ 59,69 per barel.

Adapun kontrak WTI Maret yang lebih aktif diperdagangkan naik tipis 0,13% ke US$ 59,42 per barel.

Perlu diketahui, kontrak WTI tidak mencatatkan penyelesaian harga pada Senin karena pasar AS libur memperingati Martin Luther King Jr. Day.

Analis pasar IG, Tony Sycamore, mengatakan bahwa kenaikan harga minyak mendapat dukungan dari data pertumbuhan ekonomi China kuartal IV-2025 yang melampaui ekspektasi.

“WTI bergerak menguat secara moderat dan mendapat sokongan dari data PDB China kuartal IV yang lebih baik dari perkiraan. Ketahanan ekonomi importir minyak terbesar dunia ini turut mengangkat sentimen permintaan,” ujar Sycamore.

Data resmi menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0% sepanjang 2025, sesuai target pemerintah.

Baca Juga: Imbal Hasil US Treasury Naik ke Level Tertinggi Beberapa Bulan, Dipicu Ancaman Trump

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan ekspor yang merebut pangsa permintaan global untuk mengimbangi lemahnya konsumsi domestik, meski strategi ini dinilai semakin sulit dipertahankan.

Dari sisi industri energi, throughput kilang China pada 2025 naik 4,1% secara tahunan, sementara produksi minyak mentah meningkat 1,5%.

Keduanya tercatat sebagai level tertinggi sepanjang sejarah, berdasarkan data pemerintah yang dirilis Senin.

Namun demikian, kekhawatiran pasar global meningkat setelah Trump menyatakan akan mengenakan tarif tambahan 10% mulai 1 Februari terhadap impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Tarif tersebut bahkan bisa naik hingga 25% pada 1 Juni apabila tidak tercapai kesepakatan terkait Greenland.

Di sisi lain, pelemahan dolar AS turut menopang harga minyak. Nilai tukar dolar tercatat melemah 0,3% terhadap mata uang utama lainnya.

Dolar yang lebih lemah membuat harga minyak berbasis dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

Baca Juga: Bank Sentral China (PBOC) Tahan Suku Bunga Acuan untuk Kedelapan Kalinya

“Pelemahan dolar AS akibat aksi jual dolar menyusul ancaman tarif Trump terkait Greenland memberikan tambahan dukungan bagi harga komoditas,” tambah Sycamore.

Pasar juga mencermati perkembangan sektor minyak Venezuela, setelah Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengelola industri minyak negara tersebut pasca-penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Sementara itu, perusahaan perdagangan energi Vitol dilaporkan menawarkan minyak Venezuela ke pembeli China dengan diskon sekitar US$ 5 per barel dibandingkan harga ICE Brent untuk pengiriman April.

Selain itu, China juga tercatat mengimpor minyak mentah Rusia jenis Urals dalam jumlah terbesar sejak 2023, dengan harga lebih murah dibandingkan minyak Iran.

Lonjakan ini terjadi setelah India sebagai pembeli utama memangkas impor akibat sanksi Barat, serta menjelang larangan Uni Eropa terhadap produk turunan minyak Rusia, berdasarkan sumber perdagangan dan data pengiriman.

Selanjutnya: Ukir Rekor Baru, Segini Harga Emas Antam Hari Ini Selasa 20 Januari 2026

Menarik Dibaca: Ukir Rekor Baru, Segini Harga Emas Antam Hari Ini Selasa 20 Januari 2026