Harga Minyak Dunia Naik, Serangan Kapal di Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Rabu (14/10/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global setelah dua kapal terkena serangan di Selat Hormuz.

Situasi semakin memanas setelah pejabat Iran mengungkapkan bahwa Teheran mulai menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Kenaikan harga minyak juga dipengaruhi oleh konflik antara kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dan Arab Saudi. Ketegangan geopolitik ini menambah risiko gangguan distribusi minyak di tengah perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.


Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik 63 sen atau 0,6% menjadi US$106,32 per barel pada pukul 03.45 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 66 sen atau 0,7% menjadi US$94,80 per barel.

Baca Juga: Trump Sebut Eksplorasi Besar-besaran Minyak dan Gas di Greenland Segera Dimulai

Kedua kontrak minyak tersebut sempat naik lebih dari US$1 per barel pada awal perdagangan sebelum sebagian kenaikannya terkoreksi.

Pejabat Iran menolak memberikan perincian mengenai strategi baru yang diterapkan negaranya. Namun, salah seorang pejabat menyebut Iran mulai menggunakan taktik ofensif berbeda terhadap kapal-kapal yang dinilai melanggar pembatasan yang ditetapkan Teheran sekitar 10 hari lalu.

Menurut pejabat tersebut, perubahan taktik itu telah meningkatkan jumlah serangan terhadap kapal-kapal yang dianggap melanggar ketentuan Iran.

Pada Selasa (13/10/2026), United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal kontainer dan sebuah kapal tanker terkena proyektil yang belum diketahui asalnya saat berada di Selat Hormuz.

Kepala Market Insights Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai pernyataan terbuka pejabat Iran mengenai upaya mengganggu kebijakan AS dalam mengendalikan harga minyak menunjukkan adanya kepentingan geopolitik yang lebih luas.

“Fakta bahwa pejabat Iran secara terbuka mengakui upaya mereka untuk menggagalkan langkah AS dalam menjaga harga minyak tetap terkendali menunjukkan banyak hal mengenai niat sebenarnya di balik apa yang disebut sebagai ‘perundingan damai’,” kata Sachdeva.

Ia menambahkan, Iran memahami pentingnya posisi geografisnya serta dampak kenaikan harga minyak terhadap perekonomian dunia.

“Iran sangat menyadari pentingnya posisi geografisnya dan kekacauan yang dapat ditimbulkan oleh harga minyak yang lebih tinggi terhadap perekonomian global. Negara itu mungkin tidak akan ragu memanfaatkan keunggulan tersebut sebagai alat tawar,” ujarnya.

Baca Juga: Jembatan Baru China-Korea Utara Dibuka, Perdagangan Kedua Negara Berpotensi Meningkat

Serangan Houthi ke Arab Saudi Tambah Tekanan Harga Minyak

Selain situasi di Selat Hormuz, konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi turut menjadi perhatian pelaku pasar energi.

Kementerian Energi Arab Saudi pada Rabu menyatakan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyerang sebuah gedung administrasi milik perusahaan minyak negara, Saudi Aramco, di Dhahran. Serangan tersebut memicu kebakaran terbatas.

Dalam sepekan terakhir, kelompok Houthi meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak ke wilayah Arab Saudi sebagai balasan atas dukungan kerajaan terhadap pasukan pemerintah Yaman.

Bandara internasional Riyadh juga telah menjadi sasaran serangan sebanyak empat kali. Salah satu serangan pada Sabtu (10/10/2026) dilaporkan menewaskan 13 orang.

Kepala Strategi Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, menilai meningkatnya ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak.

“Kekhawatiran terhadap pasokan yang timbul akibat konflik antara Houthi dan Arab Saudi mendorong harga minyak lebih tinggi,” kata Kikukawa.

Meski demikian, ia memperkirakan potensi peningkatan ekspor diesel Rusia dapat meredakan ketatnya pasokan di pasar energi global.

“Namun, ekspektasi bahwa peningkatan ekspor diesel Rusia akan mengurangi ketatnya pasokan kemungkinan membatasi pergerakan harga yang tajam ke kedua arah,” ujarnya.

Kikukawa memperkirakan harga minyak mentah WTI akan bergerak dalam kisaran US$90 hingga US$100 per barel.

Baca Juga: 12 Senator AS Desak Trump Batalkan Kesepakatan Diesel dengan Rusia

Produksi OPEC+ Meningkat, Pasar Pantau Ekspor Diesel Rusia

Di tengah gangguan pengiriman minyak akibat perang AS-Iran, Arab Saudi meningkatkan produksi minyaknya pada bulan lalu. Langkah tersebut berkontribusi terhadap kenaikan produksi yang tajam dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+), termasuk Rusia.

OPEC menyampaikan informasi mengenai peningkatan produksi tersebut pada Selasa (13/10/2026).

Kenaikan produksi menjadi salah satu faktor yang dapat membantu mengimbangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan. Namun, perkembangan konflik di Timur Tengah dan keamanan jalur pelayaran strategis tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Sementara itu, pemerintah Rusia pada Selasa menyatakan tidak melihat hubungan langsung antara perundingan damai dengan Ukraina dan kesepakatan ekspor diesel Rusia ke AS.

Pernyataan tersebut muncul setelah Reuters melaporkan bahwa utusan AS telah memberi tahu pejabat Ukraina pada Jumat (9/10/2026) bahwa kesepakatan ekspor diesel itu merupakan bagian dari upaya untuk mendorong Rusia kembali ke meja perundingan guna mencapai penyelesaian damai.