Harga Minyak Dunia Naik Tipis Kamis (14/5) Pagi, Brent ke US$ 105,76



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Kamis (14/5/2026) pagi seiring pelaku pasar menanti hasil pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Investor juga masih mencermati perkembangan perang Iran yang terus memengaruhi pasokan energi global.

Baca Juga: Pertemuan Trump-Xi Dimulai, Isu Dagang hingga Perang Iran Jadi Sorotan


Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik 13 sen atau 0,12% menjadi US$ 105,76 per barel pada pukul 00.15 GMT.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 12 sen atau 0,12% ke level US$ 101,14 per barel.

Kenaikan tipis tersebut terjadi setelah kedua kontrak acuan minyak melemah pada perdagangan sebelumnya.

Rabu (13/5), harga Brent turun lebih dari US$ 2 per barel, sedangkan WTI terkoreksi lebih dari US$ 1 per barel akibat kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga AS.

Baca Juga: Kevin Warsh Sah Jadi Bos The Fed, Pasar Cermati Arah Suku Bunga AS

Trump tiba di Beijing pada Rabu malam dan dijadwalkan menjalani serangkaian pertemuan dengan Xi Jinping.

Dalam agenda tersebut, Trump berupaya mengamankan kesepakatan ekonomi, menjaga gencatan dagang antara AS dan China, sekaligus membahas isu sensitif seperti perang Iran dan penjualan senjata ke Taiwan.

Meski Trump sebelumnya menyatakan tidak membutuhkan bantuan China untuk mengakhiri perang dengan Iran, analis menilai AS tetap akan meminta dukungan Beijing guna membantu meredakan konflik yang dinilai semakin membebani ekonomi dan politik domestik AS.

Namun, pasar menilai peluang tercapainya terobosan besar masih terbatas.

“Jika tidak ada kemajuan berarti untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, AS kemungkinan hanya memiliki sedikit opsi selain kembali melakukan aksi militer,” ujar analis IG, Tony Sycamore, dalam catatannya.

Baca Juga: Cisco PHK 4.000 Karyawan di Tengah Fokus Besar ke Bisnis AI

Di sisi lain, Iran disebut semakin memperketat kontrol terhadap Selat Hormuz, termasuk melalui kerja sama pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dengan Irak dan Pakistan.

Selat Hormuz menjadi jalur vital perdagangan energi dunia karena dilalui sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah. Ketegangan di wilayah tersebut terus menjadi perhatian utama pasar energi global.

China sendiri tercatat sebagai pembeli terbesar minyak Iran meski berada di bawah tekanan sanksi AS. Sepanjang 2025, lebih dari 80% ekspor minyak Iran dilaporkan dikirim ke China, terutama untuk memenuhi kebutuhan kilang independen yang memanfaatkan harga diskon minyak Iran akibat sanksi Barat.