Harga Minyak Dunia Relatif Stabil Jumat (5/6), Brent ke US$ 95,24 & WTI ke US$ 92,94



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat (5/6/2026) setelah mengalami penurunan tajam pada sesi sebelumnya.

Pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran di tengah berlanjutnya konflik di Timur Tengah.

Melansir Reuters pukul 00.03 GMT, harga minyak mentah Brent turun 21 sen atau 0,22% menjadi US$ 95,24 per barel. Sehari sebelumnya, Brent ditutup melemah 2,84%.


Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 10 sen atau 0,11% menjadi US$ 92,94 per barel, setelah terkoreksi 3,1% pada perdagangan Kamis.

Baca Juga: Investor China Mulai Lirik Afrika, Dominasi Nikel Indonesia Terancam Kebijakan Baru

Meski demikian, kedua kontrak minyak acuan tersebut masih berada di jalur kenaikan mingguan pertama dalam tiga pekan terakhir. Harga WTI tercatat menguat lebih dari 6% sepanjang pekan ini.

Kenaikan tersebut didorong oleh kembali memanasnya konflik di Timur Tengah, sementara pembicaraan perdamaian terkait perang antara AS dan Iran masih berlangsung tanpa kemajuan berarti.

Selain itu, lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dunia masih terbatas.

Sejumlah analis juga mengingatkan adanya risiko penurunan persediaan minyak global yang dapat memicu lonjakan harga pada kuartal III 2026.

Baca Juga: Harga Minyak Melemah di Pagi Ini (5/6), Ketidakpastian Kesepakatan Damai Membayangi

Sentimen pasar kembali berubah setelah pemimpin kelompok Hezbollah, Naim Qassem, pada Kamis menolak kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan pemerintah Lebanon untuk menghentikan pertempuran.

Iran sebelumnya menjadikan tercapainya gencatan senjata di Lebanon sebagai salah satu syarat dalam setiap kesepakatan damai dengan Washington.

Di sisi lain, Donald Trump mengatakan dirinya melihat adanya kemajuan dalam pembicaraan antara Israel dan Lebanon serta berharap perdamaian dapat segera terwujud.

Analis pasar dari IG Tony Sycamore menilai, optimisme pasar masih dibayangi oleh berbagai perkembangan yang saling bertentangan.

"Optimisme tetap tertutupi oleh arus berita dan bantahan yang terus bermunculan," ujarnya dalam sebuah catatan riset.

Baca Juga: Tingkatkan Pasokan Listrik, Jepang Berencana Bangun Kembali Pembangkit Nuklir Tua

Menurut Sycamore, dari sisi teknikal, selama harga minyak WTI masih bertahan di atas area support tren di kisaran rendah US$ 80 per barel, potensi pergerakan harga masih cenderung menguat.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Organization of the Petroleum Exporting Countries, Haitham Al Ghais, menegaskan bahwa OPEC tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global sebesar 1,2 juta barel per hari pada tahun ini, meskipun konflik Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz masih berlangsung.

Di sisi pasokan, ekspor minyak Iran dilaporkan turun ke level terendah dalam enam tahun terakhir, terutama akibat blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS).

Namun, lemahnya permintaan dari China masih menekan harga minyak Iran di pasar internasional.

Pelaku pasar kini akan terus mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait negosiasi perdamaian dan kondisi pasokan global, yang diperkirakan tetap menjadi faktor utama penggerak harga minyak dalam jangka pendek.