Harga Minyak Dunia Stabil, Harapan Perdamaian AS-Iran Tekan Risiko Pasokan Global



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan Jumat (3/7), sekaligus mencatat pergerakan yang relatif datar sepanjang pekan ini.

Pelaku pasar masih mempertahankan optimisme bahwa upaya diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah, sehingga mengurangi risiko gangguan pasokan minyak global.

Berdasarkan perdagangan hingga pukul 09.32 GMT (16:32 WIB), harga minyak mentah Brent naik tipis 17 sen atau 0,24% menjadi US$ 71,97 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2 sen atau 0,03% ke level US$ 68,71 per barel.


Secara mingguan, harga Brent nyaris tidak berubah, sedangkan WTI masih mencatat penurunan sekitar 0,8%.

Analis Commerzbank menilai harga minyak masih berada di bawah tekanan seiring meningkatnya harapan investor terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Optimisme tersebut muncul setelah berlangsungnya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: Penjualan Tesla Kuartal II 2026 Cetak Rekor, Eropa Jadi Penopang Kebangkitan

Perdagangan di pasar keuangan AS juga cenderung sepi karena pasar ditutup pada Jumat menjelang libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat yang diperingati pada Sabtu (4/7).

Sehari sebelumnya, kedua acuan harga minyak tersebut sempat menyentuh level terendah sejak sebelum pecahnya perang antara AS dan Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu.

Analis Citi mengatakan proses negosiasi antara Washington dan Teheran masih berlangsung meski kondisinya tetap rapuh.

"Proses perundingan antara Amerika Serikat dan Iran masih rapuh, tetapi untuk saat ini tetap berlanjut, karena persoalan mengenai tarif pelayaran di Selat Hormuz serta mekanisme pengelolaannya masih menjadi isu yang diperdebatkan," tulis analis Citi dalam laporan pada Jumat.

Mereka menambahkan, "Kami memperkirakan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) tetap akan bertahan, bukan karena kepercayaan tiba-tiba muncul, melainkan karena insentif untuk melanggarnya tidak menguntungkan bagi kedua belah pihak."

Aktivitas Pengiriman Minyak Mulai Pulih

Sebagian aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz mulai kembali berlangsung sesuai kesepakatan awal antara AS dan Iran. Namun, ketidakpastian masih tinggi setelah kedua negara saling melancarkan serangan pada akhir pekan lalu, menyusul serangan Iran terhadap sebuah kapal kargo.

Prospek terbukanya jalur ekspor mendorong negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk meningkatkan produksinya.

Sumber Reuters menyebutkan produksi minyak Kuwait melonjak menjadi sekitar 1,65 juta barel per hari pada Juni 2026, meningkat tajam dibandingkan 580.000 barel per hari pada Mei.

Selain itu, sedikitnya lima kapal tanker raksasa yang mengangkut total sekitar 10 juta barel minyak Arab Saudi telah keluar dari Selat Hormuz. Di sisi lain, Saudi Aramco juga mulai beralih menggunakan skema harga spot dibanding kontrak jangka panjang guna mempercepat penjualan minyak ke pasar Asia.

Baca Juga: Taylor Swift dan Travis Kelce Dikabarkan Menikah, Siapkan Perayaan Mewah di New York

Analis PVM, Tamas Varga, mengatakan pemulihan harga minyak yang berkelanjutan masih bergantung pada kemampuan pasar menyerap pasokan yang saat ini masih tersimpan di kapal tanker maupun fasilitas penyimpanan.

"Pemulihan harga minyak mentah yang berkelanjutan kemungkinan baru akan terjadi setelah minyak yang saat ini masih tertahan di kapal tanker dan fasilitas penyimpanan berhasil diserap oleh pasar, serta apabila peningkatan produksi tidak cukup untuk mengimbangi volume minyak yang kini melintasi Selat Hormuz," ujar Varga.

Struktur Pasar Berubah Menjadi Contango

Meningkatnya ketersediaan pasokan minyak turut mengubah struktur pasar dari backwardation menjadi contango. Kondisi contango mencerminkan harga kontrak berjangka lebih tinggi dibanding harga saat ini, yang umumnya menunjukkan berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap potensi kekurangan pasokan dalam waktu dekat.

Perubahan tersebut terlihat dari selisih harga Brent kontrak bulan terdekat dengan kontrak enam bulan ke depan yang berubah menjadi negatif pada 1 Juli 2026. Ini merupakan kali pertama kondisi tersebut terjadi sepanjang tahun 2026, sekaligus menandakan ekspektasi pasar terhadap pasokan minyak global mulai membaik.