KONTAN.CO.ID – Harga minyak dunia bergerak stabil dengan kecenderungan menguat tipis pada perdagangan Kamis (26/2/2026), seiring pelaku pasar menanti hasil pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi meredakan risiko konflik militer di Timur Tengah. Mengutip
Reuters, minyak mentah Brent diperdagangkan di level US$ 71,02 per barel, naik 17 sen atau 0,24% pada pukul 08.47 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 12 sen atau 0,2% menjadi US$ 65,54 per barel.
Baca Juga: PM Lawrence Wong: Tak Akan Ada Jobless Growth di Singapura Meski AI Ubah Ekonomi Sebelumnya pada Senin, harga Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak 31 Juli setelah Washington memposisikan kekuatan militer di Timur Tengah guna menekan Iran agar bersedia bernegosiasi terkait program nuklir dan rudal balistiknya. Analis Fujitomi Securities Toshitaka Tazawa mengatakan, investor kini fokus pada apakah konflik militer dapat dihindari dalam negosiasi AS-Iran. Menurutnya, jika konflik pecah namun terbatas dan berlangsung singkat, harga WTI berpotensi melonjak sementara ke atas US$ 70 per barel sebelum kembali turun ke kisaran US$ 60–65. Namun, konflik berkepanjangan berisiko mengganggu pasokan dari Iran produsen minyak terbesar ketiga di Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) serta negara eksportir Timur Tengah lainnya.
Baca Juga: Negosiasi Nuklir Iran: Nasib Perundingan Genting di Jenewa! Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu delegasi Iran untuk putaran ketiga pembicaraan di Jenewa pada Kamis. Analis ING menilai hasil perundingan nuklir AS-Iran akan menjadi penentu arah harga minyak. Jika tercapai resolusi konstruktif, pasar diperkirakan akan melepas premi risiko sekitar US$ 10 per barel yang saat ini sudah terakumulasi dalam harga. Di sisi pasokan, Arab Saudi dilaporkan meningkatkan produksi dan ekspor minyak sebagai bagian dari rencana kontinjensi jika terjadi serangan AS terhadap Iran yang mengganggu pasokan kawasan. Sementara itu, kelompok OPEC+ yang terdiri dari negara anggota OPEC dan sekutunya termasuk Rusia diperkirakan akan mempertimbangkan kenaikan produksi sebesar 137.000 barel per hari pada April, seiring persiapan menghadapi puncak permintaan musim panas dan dampak kenaikan harga akibat tensi geopolitik.
Baca Juga: Korea Selatan dan Uni Emirat Arab Teken Kerja Sama Pertahanan Senilai US$35 Miliar Namun, kenaikan harga minyak tertahan oleh lonjakan persediaan minyak mentah AS. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS melonjak 16 juta barel pekan lalu, kenaikan terbesar dalam tiga tahun terakhir.