Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Pantau Kelanjutan Perdamaian AS-Iran



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan Jumat (4/7/2026) seiring pelaku pasar masih berharap upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Optimisme tersebut juga memicu harapan bahwa arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz akan kembali normal, sehingga kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mulai mereda.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik 17 sen atau 0,24% menjadi US$ 71,97 per barel pada pukul 09.32 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat tipis 2 sen atau 0,03% ke level US$ 68,71 per barel.


Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil Seiring Pasar Menunggu Kepastian Damai AS-Iran

Secara mingguan, harga Brent nyaris tidak berubah, sedangkan WTI melemah sekitar 0,8%.

Analis Commerzbank menilai harga minyak masih tertekan karena investor semakin optimistis Selat Hormuz dapat kembali beroperasi penuh seiring berlanjutnya pembicaraan damai antara AS dan Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Pada Kamis (3/7), harga Brent dan WTI bahkan sempat menyentuh level terendah sejak sebelum pecahnya konflik AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu.

Meski demikian, prospek perdamaian masih dibayangi ketidakpastian. Analis Citi menilai proses negosiasi antara AS dan Iran masih rapuh, terutama terkait pengaturan biaya dan tata kelola pelayaran di Selat Hormuz.

"Kami memperkirakan nota kesepahaman (MoU) tetap bertahan, bukan karena kepercayaan sudah terbentuk, melainkan karena kedua pihak sama-sama tidak memiliki insentif untuk melanggarnya," tulis analis Citi.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 11% di Tengah Sinyal Damai AS-Iran, Konflik Masih Memanas

Sejumlah kapal mulai kembali melintasi Selat Hormuz sesuai kesepakatan awal kedua negara. Namun, ketidakpastian tetap tinggi setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan akhir pekan lalu menyusul serangan Iran terhadap sebuah kapal kargo.

Di sisi lain, negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk mulai meningkatkan produksi seiring terbukanya peluang ekspor yang lebih besar. Produksi minyak Kuwait, misalnya, melonjak menjadi 1,65 juta barel per hari pada Juni dari sekitar 580.000 barel per hari pada Mei.

Data pelayaran juga menunjukkan sedikitnya lima kapal tanker raksasa yang mengangkut sekitar 10 juta barel minyak Arab Saudi telah keluar dari Selat Hormuz.

Selain itu, Saudi Aramco mulai mengalihkan skema penjualan ke harga spot dari kontrak jangka panjang untuk mempercepat penjualan minyak ke pasar Asia.

Analis PVM, Tamas Varga, mengatakan pemulihan harga minyak yang lebih berkelanjutan baru akan terjadi setelah pasokan minyak yang masih tertahan di kapal tanker dan fasilitas penyimpanan terserap pasar.

Menurutnya, keseimbangan harga juga akan bergantung pada kemampuan peningkatan produksi untuk mengimbangi volume minyak yang kembali melewati Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 7% di Tengah Harapan Damai AS-Iran

Bertambahnya pasokan juga mulai mengubah struktur pasar minyak dari backwardation menjadi contango, yang mencerminkan berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap potensi kelangkaan pasokan di masa depan.

Bahkan, selisih harga Brent kontrak terdekat dengan kontrak enam bulan ke depan berubah menjadi negatif pada 1 Juli, pertama kalinya sepanjang 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News