KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia cenderung stabil pada penutupan perdagangan Rabu (15/4/2026), di tengah tarik-menarik antara harapan perdamaian Amerika Serikat–Iran dan kekhawatiran gangguan pasokan dari Selat Hormuz. Melansir
Reuters, kontrak Brent crude naik tipis 0,1% ke level US$94,93 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat tipis ke US$91,29 per barel.
Baca Juga: Erdogan Dorong Perpanjangan Gencatan Senjata AS-Iran Stabilnya harga minyak terjadi meski Presiden Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran berpotensi segera berakhir. Sentimen tersebut tertahan oleh kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global yang masih terganggu. Hormuz Masih Tersendat Sumber yang mengetahui negosiasi menyebut Iran mempertimbangkan untuk mengizinkan kapal melintas bebas melalui sisi Oman di Selat Hormuz, dengan syarat tercapai kesepakatan dengan AS untuk mencegah konflik kembali memanas. Namun, 45 hari setelah Garda Revolusi Iran menyatakan selat tersebut ditutup, arus pelayaran masih jauh di bawah normal.
Baca Juga: Presiden Putin Panik, PDB Rusia Terjun Bebas, Sektor Manufaktur Memburuk Sebelum konflik, lebih dari 130 kapal melintas setiap hari, kini hanya sebagian kecil yang beroperasi. Analis Kpler mencatat, total kehilangan pasokan minyak mentah dan kondensat dari Timur Tengah telah mencapai sekitar 496 juta barel sejak konflik berlangsung. Di sisi lain, blokade AS terhadap pelabuhan Iran membuat aktivitas ekspor-impor negara tersebut melalui jalur laut praktis terhenti. Pasar Masih Menyimpan Premi Risiko Meski ada tanda-tanda pemulihan arus kapal tanker, pasar dinilai belum sepenuhnya menghapus risiko gangguan pasokan.
Baca Juga: NATO Optimistis Pendanaan Bantuan Militer Ukraina Tercapai Meski Beban Belum Merata Analis energi menilai saat ini pasar tidak lagi memproyeksikan gangguan total, namun masih mempertahankan premi risiko karena pemulihan distribusi berlangsung bertahap, bukan kembali normal secara cepat. Kebijakan AS yang tidak memperpanjang pengecualian (waiver) untuk pembelian minyak Iran dan Rusia juga memperketat pasokan global. Dampak ke Ekonomi Global Ketidakpastian ini mendorong kekhawatiran lebih luas terhadap ekonomi global. Sejumlah menteri keuangan dari berbagai negara menyerukan implementasi penuh gencatan senjata, mengingat konflik berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan pasar keuangan.
Baca Juga: Arab Saudi Akan Fokuskan Dana Investasi US$ 925 Miliar untuk Ekonomi Domestik International Monetary Fund (IMF) bahkan memperkirakan sejumlah negara akan mengajukan pinjaman baru untuk menghadapi lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok. Jepang juga menyiapkan skema pembiayaan senilai US$10 miliar untuk membantu negara-negara Asia dalam mengamankan pasokan energi. Faktor Tambahan dari AS
Dari sisi fundamental, laporan Energy Information Administration menunjukkan stok minyak mentah AS turun 0,9 juta barel pada pekan lalu, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan yang turut menopang harga minyak.
Baca Juga: Harga Pupuk Urea di India Naik Dua Kali Lipat Akibat Guncangan Perang Iran Sementara itu, dinamika politik di AS juga menambah ketidakpastian. Presiden Trump mengancam akan mencopot Ketua The Fed jika tidak mundur setelah masa jabatannya berakhir, yang berpotensi memicu kekhawatiran atas independensi kebijakan moneter. Secara keseluruhan, harga minyak saat ini bergerak dalam keseimbangan rapuh ditopang harapan diplomasi, namun dibatasi oleh realitas gangguan pasokan yang belum sepenuhnya pulih.