Harga Minyak Dunia Tembus Level Tertinggi dalam Sepekan, Dipicu Konflik Iran



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Rabu (3/6/2026), melanjutkan kenaikan dari sesi sebelumnya.

Penguatan ini didorong oleh kembali memanasnya konflik di Timur Tengah serta minimnya kemajuan dalam perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Berdasarkan data perdagangan, kontrak berjangka minyak Brent naik US$ 2,30 atau 2,4% menjadi US$ 98,30 per barel pada pukul 08.41 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 2,34 atau 2,5% menjadi US$ 96,10 per barel.


Kedua acuan harga minyak tersebut juga sempat menyentuh level tertinggi masing-masing sejak 27 Mei untuk Brent dan sejak 22 Mei untuk WTI.

Baca Juga: Kenaikan Harga BBM Akibat Konflik Iran Tekan Permintaan Bensin dan Solar di India

Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke arah negara-negara tetangganya, yakni Kuwait dan Bahrain. Di sisi lain, pasukan Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Pulau Qeshm di Iran.

Situasi tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi dunia.

Tom Baker, Managing Director Bahrain untuk perusahaan perdagangan komoditas global Vitol, mengatakan bahwa pasar minyak global masih belum sepenuhnya memperhitungkan risiko yang muncul akibat konflik Iran yang kini telah memasuki bulan ketiga.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi energi pada Selasa (2/6/2026).

Selain faktor geopolitik, sentimen positif juga datang dari peringatan yang disampaikan oleh Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA). Lembaga tersebut memperingatkan bahwa persediaan minyak global berpotensi mencapai level kritis menjelang periode puncak permintaan musim panas apabila laju penurunan stok terus berlangsung seperti saat ini.

Baca Juga: Harga Emas Melemah, Tertekan Dolar AS dan Lonjakan Harga Minyak

Analis senior minyak LSEG, Emril Jamil, menilai kombinasi mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta menipisnya persediaan minyak global telah menambah premi risiko pada harga minyak.

"Mandeknya negosiasi AS-Iran dan peringatan IEA mengenai rendahnya tingkat persediaan global yang dapat mencapai level kritis menambah lapisan premi risiko ke atas harga minyak acuan," ujar Emril Jamil.

Dari sisi fundamental, data industri juga menunjukkan pasokan minyak di Amerika Serikat semakin ketat. Berdasarkan sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute (API) yang dirilis Selasa (2/6/2026), persediaan minyak mentah AS turun selama tujuh pekan berturut-turut.

Dalam pekan yang berakhir pada 29 Mei, stok minyak mentah AS dilaporkan berkurang sekitar 6,8 juta barel.

Pasar kini menantikan data resmi persediaan minyak dari pemerintah Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada Rabu pukul 10.30 waktu setempat atau 14.30 GMT. Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk mengukur kondisi pasokan minyak di negara konsumen energi terbesar dunia tersebut.